Friday, December 29, 2017

CEO Message #9 IFA Hanya Imajinasi dan Aksi yang bisa mengubah dunia

Dalam CEO Message #6 saya sudah menjelaskan bahwa menjadi yang terbaik merupakan keyakinan dasar (basic belief) yang harus dimiliki oleh setiap insan Kemenpar. Keyakinan dasar ini diterjemahkan ke dalam nilai-nlai inti (core values) 3S: Solid, Speed, Smart. Dan nilai-nilai inti tersebut akan bermuara menjadi great performance jika dimanifestasikan menjadi perilaku (common behavior) utama yang dipraktekkan dalam aktivitas kerja sehari-hari. 
Perilaku utama yang saya maksud di sini adalah Imagine, Focus, dan Action yang saya singkat menjadi IFA. Perilaku utama ini akan membentuk pola sikap dan pola tindak kita dalam rangka menempa diri menjadi pemenang. Dengan mempraktekkan IFA dalam aktivitas kerja sehari-hari, maka kita akan menjadi pemenang, melalui pencapaian kinerja yang luar biasa.
Dalam CEO Message #9 ini, secara mendalam saya akan menjelaskan IFA yang diharapkan akan menjadi acuan kita dalam bekerja terutama guna mewujudkan target kedatangan wisatawan 20 juta pada tahun 2019. 

Imagine 
Ketika kita ingin melakukan sesuatu hal yang besar, maka kita harus memulainya dengan mimpi yang besar. Kita harus berimajinasi, membayangkan kondisi ideal yang hendak kita capai, dan kemudian jadikan imajinasi itu sebagai energi luar biasa untuk menggerakkan potensi yang kita miliki untuk mewujudkannya. Kita harus bermimpi, membayangkan tujuan akhir yang hendak kita raih, kemudian jadikan mimpi itu sebagai panduan untuk mengarahkan segenap sumber daya yang kita miliki untuk mewujudkannya. Itu sebabnya saya mengatakan: “imagination is about a designed dream.”
Jangan remehkan imajinasi. Imajinasi dan mimpi yang besar dan challenging bisa melipatgandakan kemampuan normal kita untuk mewujudkannya. Imajinasi dan mimpi yang diyakini sepenuh hati akan menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin dilakukan. Imajinasi dan mimpi adalah awal dari capaian-capaian besar, terobosan-terobosan fenomenal, dan mahakarya-mahakarya monumental. Melalui imajinasi dan mimpi kita akan bisa mengubah dunia.
Ketika John F. Kennedy mengatakan “We choose to go to the moon” di tahun 1962, sesungguhnya ia menyodorkan sebuah mimpi yang begitu challenging kepada seluruh rakyat Amerika Serikat. Dan mimpi itu menjadi penyemangat yang luar biasa untuk mewujudkannya.
Begitu juga ketika Martin Luther King Jr. mengatakan “I have a dream” tahun 1963, sesungguhnya ia menyodorkan sebuah mimpi mengenai sebuah masyarakat ideal di mana orang hidup berdampingan secara damai penuh cinta, tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan agama. Mimpi Martin Luther King tersebut menjadi energi luar biasa yang mengilhami seluruh bangsa di dunia untuk mewujudkan dunia yang damai tanpa perang dan permusuhan.
Karena itu, saya setuju dengan Albert Einstein yang mengatakan, “Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited, whereas imagination embraces the entire world, stimulating progress, giving birth to evolution.” Imajinasi bisa menjadi energi pendorong yang luar biasa karena jangkauan aspirasinya tidak mengenal batas. Imajinasi itu memang intangible, namun saya sepaham dengan Einstein, bahwa sesuatu yang intangible itu memiliki kekuatan yang lebih dahsyat. Ketika sesuatu yang tidak nyata itu kita yakini, maka ia akan berubah menjadi kekuatan yang Maha Dahsyat.
Saya percaya sepenuhnya bahwa, “If you can imagine, you can get it”. Saya ingin berbagi sedikit cerita mengenai Walt Disney. Ada satu kisah menarik mengenai seniman, pemimpin hebat, dan pendiri Disney ini. Pada suatu kesempatan peresmian Disneyland di suatu kota di Amerika Serikat, istri sang legenda Lillian Disney hadir. Ya, karena pada saat itu Walt Disney sudah tiada.
Dalam pidatonya ia mengatakan, “Ia sudah melihatnya. Inilah yang diimpikan oleh suamiku”. Pernyataan sang istri ini tak lain merujuk pada kata-kata paling terkenal dari Walt Disney, yaitu, “If you can dream it, you can do it.” Kalau kita bisa membayangkannya, maka kita akan dapat meraihnya. Sang istri menegaskan bahwa kerajaan bisnis Disney terwujud karena sejak awal Walt Disney sudah memiliki mimpi besar menciptakan “The Happiest Place on Earth”.
Imagine mengandung substansi bahwa semua yang akan dilaksanakan berawal dari apa yang akan kita capai: “Berawal dari Akhir”. Mau ke mana, dari mana, dan kemudian bagaimana caranya. Yang penting kita mau ke mana dulu, tidak peduli di manapun kita berada. Orang yang selalu berpikir mulainya dari mana, bisa tidak ke mana-mana, karena dia terlalu terbebani oleh legacy masa lampau yang telah dicapainya.
Saya akan memberikan ilustrasi untuk menjelaskan hal ini. Misalnya kita diberi dua carik kertas kosong. Kertas pertama diisi dengan pernyataan: “apa yang kita miliki” dan “mau ke mana kita”. Kertas kedua, tanpa memikirkan apapun, tuliskanlah “apa yang ingin kita capai”. Apa yang terjadi? Pegang dua kertas itu di kiri dan di kanan. Kertas yang di kiri berisi apa yang kita miliki dan kita mau ke mana. Yang di kanan tanpa memikirkan apapun kita boleh menuliskan apa yang kita inginkan. Ternyata yang memberikan cita-cita pemimpi besar itu yang sebelah kanan. Apa yang harus dilakukan? Ambil kertas kiri dan sobeklah kertas tersebut!
Dalam konteks kepemimpinan, Imagine diterjemahkan sebagai visi yang ditetapkan oleh pemimpin untuk menjadi kompas pengarah bagi transformasi yang dilakukan organisasi. Saya menggambarkan pemimpin ibarat seorang pelukis atau arsitek yang ingin membuat sesuatu seperti yang dia bayangkan dan rencanakan. Energi terbesar dari seorang pelukis atau arsitek itu ketika lukisan atau bangunan rancangannya belum selesai. Ia tidak akan berhenti sebelum apa yang ia bayangkan terwujud. Hal tersebut sama seperti apa yang saya bayangkan “Saya ingin tahun ini segera berakhir karena ingin melihat mimpi saya di akhir tahun menjadi kenyataan”.
Tak seperti kebanyakan orang yang mempercayai sesuatu setelah ia melihat hal yang nyata (“seeing is believing”), seorang pemimpin hebat selalu bisa meyakini sesuatu yang tidak nyata seperti imajinasi dan mimpi (believing is seeing). Dengan kemampuan seperti itu, ia memiliki kemampuan untuk mengeksplorasi hal-hal di luar jangkauan kemampuan olah pikir manusia pada umumnya.
Kemampuan inilah yang memungkinkan organisasi yang dipimpinnya mampu mencapai terobosan-terobosan dahsyat yang secara normal tak mungkin dicapainya. Berbekal keyakinan pada kekuatan imajinasi dan mimpi, seorang pemimpin akan membawa semua orang di dalam organisasi untuk ikut meyakininya, dan kemudian bersama-sama mewujudkannya.
Akhirnya saya perlu menjelaskan mengapa saya lebih memilih kata Imajinasi dibandingkan dengan Visi atau Mimpi. Visi (“melihat”) dapat dilakukan dengan sadar, namun terbatas, sedangkan Mimpi walaupun bisa tanpa batas, namun tidak sadar. Sementara itu, Imajinasi dapat dilakukan dengan sadar dan tanpa batas.
Focus
Saya mendefinisikan Focus sederhana saja, yaitu: “utamakan yang utama”. Kalau kita memiliki banyak hal yang ingin dicapai, maka tetapkan prioritas, jangan serakah. Jika kita menginginkan semuanya, maka kita akan kehilangan semuanya. Kalau kita diminta menyusun prioritas program, dan Kita menetapkan 20 program prioritas, maka saya akan mengatakan ke-20 program itu bukanlah prioritas.
Maaf, selama memimpin saya tidak suka memiliki program yang terlalu banyak. Tetapkan saja tiga yang utama. Kerjakan dulu “yang utama” sebelum mengerjakan lain-lain yang tidak utama. Jangan sampai kita telah mengerjakan semuanya kecuali yang utama.
Gampang saja saya mengetahui apakah kita sudah mengutamakan yang utama atau belum. Tandanya, apakah kita hapal di luar kepala hal-hal yang utama itu atau tidak. Kalau kita hapal di luar kepala, besar kemungkinan kita sudah mengutamakan yang utama. Coba bayangkan, ada seseorang jago silat tetapi dia tidak hafal jurusnya, karena begitu banyaknya jurus yang dia kuasai. Berapa program utama kita. Kalau tidak bisa menjawab secara langsung, kemungkinan besar kita salah. Itu karena terlalu banyak program di kepala kita. Kalau kita menginginkan semuanya, kita tidak akan dapat semuanya.
Kalau dalam Imagine kita menetapkan tujuan-tujuan akhir yang hendak dituju, maka dalam Focus kita harus menetapkan prioritas-prioritas agar tujuan akhir itu bisa terwujud. Karena itu Focus tak lain merupakan cermin dari kemampuan kita mengalokasikan sumber daya secara bijak. Kita tahu bahwa sumber daya yang kita miliki selalu terbatas. Sementara di sisi lain kita maunya banyak. Kita inginnya semua tujuan yang kita tetapkan bisa tercapai. Di sinilah terjadi gap. Karena itu sumber daya terbatas (waktu, tenaga, dana, atau fasilitas) yang kita punya harus dialokasikan secara tepat.
Saya sering menggambarkan upaya mewujudkan visi sebagai sebuah peperangan. Jika kita ingin menang di medan perang, maka kita harus mengirim pasukan, bentuk winning team, dan kemudian pilih pasukan terbaik. Berikan dukungan sumber daya yang cukup: senjata, logistik, taktik perang yang rapi, juga waktu dan perhatian yang memadai. Poin saya adalah kalau ingin menang, kirim pasukan dan alokasikan sumber daya secermat mungkin.
Tak cukup hanya itu, untuk memenangkan peperangan kita juga harus menetapkan “bukit-bukit kemenangan”. Ada yang namanya peperangan dan ada yang namanya pertempuran: war and battle. Peperangan terdiri dari beberapa pertempuran. Nah, dalam peperangan, kita harus memilih bukit-bukit pertempuran mana yang harus kita menangkan. Makanya saya katakan, buatlah bukit-bukit pertempuran dalam peperangan yang kita lakukan.
Tidak harus seluruh bukit pertempuran itu dimenangkan. Kita cukup memfokuskan diri pada kekuatan utama untuk merebut bukit-bukit utama. Di bukit-bukit utama tersebut kita kirim pasukan terbaik dengan taktik perang akurat, dukungan senjata dan logistik memadai, dan kita rencanakan penyerangannya secermat mungkin. Di bukit-bukit yang tidak utama, sumber daya tidak perlu dikonsentrasikan.
Strategi sesungguhnya adalah memilih aktivitas-aktivitas di mana kita kuat, di mana kita memiliki keunggulan, di mana kita memiliki keunikan dibanding pesaing untuk memenangkan persaingan. Ini artinya apa? Itu artinya, kita harus mengkonsentrasikan dan memprioritaskan sumber daya yang kita miliki untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang menjadi kunci keunggulan kita untuk mencapai yang kita inginkan. Jadi sekali lagi ingat: Utamakan yang utama dan tetapkan bukit-bukit kemenangan kita.

Action
Setelah kita berimajinasi untuk menemukan visi, lalu kita mengalokasi sumber daya dengan mengutamakan yang utama, maka selanjutnya visi tersebut harus betul-betul dieksekusi sehingga menghasilkan kinerja yang menakjubkan. Aksi adalah muara dari keseluruhan aktivitas yang kita lakukan, yang akan menentukan apakah kita mampu menciptakan nilai (creating value) atau tidak.
Visi tanpa aksi itu Fantasi. Sebaliknya, Aksi tanpa Visi itu Sensasi, karena sifatnya sesaat. Jadi kita harus komplit, memiliki kemampuan untuk menghasilkan imajinasi dan mimpi yang luar biasa. Tapi di sisi lain, kita juga harus memiliki kemampuan agar mampu mengeksekusi visi menjadi kinerja mengagumkan. Hanya imajinasi dan aksi yang bisa mengubah dunia.
Jack Welch mengajarkan kepemimpinan adalah 3E yaitu: Energy, Energize, Edge.Suatu ketika ia melakukan turba (“turun ke bawah”) dan bertemu dengan seseorang yang sangat bagus di lapangan, tetapi kinerja tim yang dipimpinnya tidak terlalu bagus. Pertemuan itulah yang kemudian menyadarkan Jack Welch bahwa ternyata ada E keempat yang belum dilakukan oleh seorang pemimpin yaitu Execution. Maka ia pun kemudian menambahkan satu unsur lagi di dalam prinsip leadership-nya menjadi 4E.
Sama dengan Jack Welch, dulu saya berpikir alokasi sumber daya merupakan bagian dari Action. Tetapi, dari berbagai pengalaman memimpin, akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa alokasi sumber daya merupakan bagian dari strategi, bukan eksekusi. Karena itu kemudian alokasi sumber daya saya masukkan ke dalam Focus, bukan Action.  
Action adalah kunci untuk untuk membentuk mental pemenang. Untuk menjadi pemenang kita harus membuat quick winQuick win ditetapkan lebih untuk membentuk kepercayaan diri (self confidence) untuk bermental pemenang. Oleh karenanya dalam merumuskan quick win kita harus mencari capaian-capaian yang kemungkinan untuk suksesnya tinggi. Di samping itu, kontribusi dan dampak dari quick win tersebut diharapkan cukup signifikan.
Namun, kalau kita tidak bisa menemukan quick win yang dampaknya besar, pilihlah quick win yang kemungkinan suksesnya besar. Kenapa begitu? Karena kepentingan utama kita menetapkan quick win adalah untuk mendapatkan “kemenangan-kemenangan kecil” yang bisa membangun kepercayaan diri kita bahwa kita mampu untuk menjadi pemenang. Jiwa pemenang dapat dibentuk dengan kepercayaan diri yang tinggi, baik untuk si pemimpin maupun untuk orang-orang yang dipimpinnya.
Quick win sering saya contohkan dengan maksud agar pasukan kita percaya pada pemimpinnya. Seorang pemimpin mengatakan di bukit A ada perunggu, dan terbukti ada perunggu. Lalu dia mengatakan di bukit B ada perak, dan terbukti ada perak. Kemudian dia mengatakan lagi di bukit C ada emas, dan terbukti ada emas. Lalu ketika dia katakan yang sebenarnya dia cari adalah bukit D yang penuh dengan berlian yang terletak di balik perbukitan  yang jauh di sana, maka semua orang akan percaya.
Mengapa semua orang menjadi percaya? Karena sebagian besar di antara kita memiliki pemikiran “seeing is believing”, melihat dulu baru percaya. Bagi orang yang keyakinannya hebat, “believing is seeing”, ketika kita menyakininya, kita melihatnya. Itulah Visionary Leader.


Salam Pesona Indonesia...!!!

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.