Sunday, March 21, 2021

Storynomics and Interpreting Concept


Storynomics Tourism is an approach that prioritizes narration, creative content, and living culture and uses the power of culture as destination DNA. This formula was socialized by Irfan Wahid, who was assigned by President Joko Widodo to lead the Quick Win 5 Tourism Super Priority Destination team (kompas.Com, 1 August 2019). The storynomics concept was adapted from the marketing field by McKee (McKee and Gerace, 2018). By preparing a good story, the marketing process becomes different. A story that has economic value can attract people in making a purchasing decision. In terms of tourism destinations, this economic value story is folklore, which can attract tourists in deciding to visit. Mckee also explained that the concept of storynomics is to compose a story; it requires regular and planned steps so that the story can amaze its listeners or readers. Currently, marketing through advertising has begun to fade. Thus storytelling will be an opportunity for marketing as a substitute for saturation from advertising. Marketing experts, including advertising companies, were forced to admit that in this digital age, marketing strategies have indeed gone from "Advertising is King" to "Content is King". Furthermore, McKee also distinguishes between Fictional Story and Purposeful Story, which is a real difference between story for storytelling (fictional), which is different from the process of a story that contains a purpose (purposeful), which requires Action. However, the concept of storytelling can be seen in a broader context. Destination information provides not only complete information on available infrastructure and amenities but also interesting stories were written by geologists, the environment, maritime, and cultural experts, which are translated into various target market languages. In several studies show that several factors can affect the interest in visiting a destination, one of which is a myth about the destination. Amanat (2019) explained that folklore (myth) is part of the strategy for developing tourist destinations. The Storynomics concept is closely related to the delivery of messages to tourists. The party that has the most role in delivering this message is a tour guide. In a broad context, the function of a tour guide is not only to guide tourists during the tour but also to convey a variety of information related to the destination from various points of view (Kesrul, 2004). Another ability that must be possessed is interpreting ability. Prideau (2006) describes interpretation as a special type of communication that is highly relevant to tourism. According to him, the importance is seen in activities such as tours, presentations, and educational programs carried out in museums, art galleries, information centers, wildlife parks, zoos, national parks, and other protected environments. People who carry out interpretation activities are called interpreters. Another definition of interpretation is educational activities aimed at expressing various meanings and relationships through the use of original objects, in a direct way, with illustrative media, more than just conveying factual information (Carter, 1997). The role of an interpreter is very necessary for tourism activities. Resource interpretation connects visitors to the meaning and spirit of places (Benton, 2007). Another opinion states: the role of interpretation in tourist experience is widely acknowledged (Sam, 2007). With the value of experience gained from tourists will have an impact on return visits to a destination (Yuniawati, 2016)

source :  http://tsdr.psdku.unpad.ac.id 

Tata Kelola Desa Wisata dan Homestay

Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. Desa Wisata (rural tourism) merupakan pariwisata yang terdiri dari keseluruhan pengalaman pedesaan, atraksi alam, tradisi, unsur- unsur yang unik yang secara keseluruhan dapat menarik minat wisatawan. Jika kedua pengertian desa wisata dipadukan, maka desa wisata adalah perpaduan antara atraksi alam, budaya, dan kreativitas masyarakat setempat didukung oleh akomodasi dan fasilitas lainnya, yang dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung

Buku Panduan Tata Kelola Homestay Klik Disini

Contoh Buku Panduan tata Kelola desa Wisata Klik Disini

Panduan Pendirian Kelompok Sadar Wisata

 



Beberapa Dasar Hukum yang menjadi payung dalam Penyusunan Pedoman Kelompok Sadar Wisata ini adalah sebagai berikut:

  • Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4966)
  • Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM.04/UM.001/MKP/08 tentang Sadar Wisata
  • Untuk download Panduan Kelompok Sadar Wisata Klik disini

Keunikan Kampung Kuno Semarang

MEMILIKI masjid kuno At Taqwa, Sekayu adalah kampung bersejarah di Kota Semarang, Jawa Tengah. Masjid berarsitektur Jawa ini memiliki saka (tiang) tunggal penyangga atap model tumpang. Konon, masjid ini dibangun Kiai Kamal sekitar tahun 1413. Bentuk asli masjid tetap dipertahankan, terutama arsitektur bagian dalam, saat direnovasi tahun 2006. Tokoh masyarakat Kampung Sekayu, Ahmad Arif (63), mengungkapkan, Sekayu terdiri dari Sekayu Tumenggungan, Sekayu Kepatihan, dan Sekayu Kramatjati.

Dinamai Sekayu karena sekitar masjid dulu merupakan lokasi penimbunan kayu jati dari hutan jati di Grobogan, Kendal, dan sekitarnya. Letak Kampung Sekayu berada di samping Kali Semarang, dahulu kala merupakan jalur lalu lintas perahu dan kapal. ”Ciri khas rumah asli Sekayu, rumah tinggal kuno, terbuat dari kayu jati berarsitektur Indis, gaya campuran rumah Jawa dengan gaya Belanda. Rumah kuno sekarang tidak terlalu banyak,” ujar Ahmad, yang pernah menjadi Ketua Tim Tujuh. Tim Tujuh dibentuk warga Sekayu untuk mempertahankan keberadaan Sekayu setelah tahun 2008 muncul pembangunan Mal Paragon. Kampung Sekayu telah kehilangan wilayah Rukun Tetangga (RT) 01, meliputi 20-22 rumah, yang sebagian rumah itu khas Sekayu. Ahmad menunjukkan bentuk asli rumahnya. Ruang tamu berdinding kayu jati warna kuning gading itu memiliki pintu kembar, baik untuk kamar maupun pintu depan. Ciri khas pintu jawa Sekayu, di atas pintu ada lubang angin berbentuk cakra. Dari segi sejarah, ujar Ahmad, Sekayu pernah menjadi pusat pemerintahan (Dalem Kanjengan) setelah pindah dari Bubahan ke Gabahan, kemudian Sekayu, dan akhirnya ke Kanjengan, depan alun-alun Masjid Besar Kauman. Sebelah barat Sekayu, dibatasi Jalan Pemuda, juga terdapat Kampung Basahan. Dinamai Basahan, menurut ceritanya, karena pernah didiami salah satu panglima pengikut Pangeran Diponegoro, yaitu Sentot Alibasyah Prawirodirdjo. Kampung itu kini hilang, kawasan itu menjadi hotel mewah. Salah satu warga Kampung Basahan, Sugiarto (67), pernah tinggal di Basahan. ”Rumah saya dibeli investor tahun 2005. Sulit mempertahankan kampung ini karena banyak warga yang bersedia menjual,” ujarnya. Struktur kampung didesain untuk penguatan ekonomi dan pertahanan warga di zaman Belanda. Ketika itu, Semarang merupakan bandar besar untuk kapal-kapal pengangkut hasil bumi, kampung-kampung itu juga mengarah ke pantai. Di bagian utara Sekayu terdapat Kampung Depok (Padepokan), tempat bersemadi warga. Ada pula Kampung Kranggan, kata lain dari kanuragan yang merupakan sarana berlatih bela diri. Di dekat pelabuhan terdapat pula Kampung Beteng, kampung pembatas antara bandar dan lokasi permukiman warga lokal.

Baca Artikel selanjutnya klik disini

Friday, March 19, 2021

9 langkah Pemasaran Desa Wisata

 

Pemasaran Desa Wisata

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan wisatawan akan produk wisata desa, yang diikuti oleh pertumbuhan desa wisata di Indonesia yang kian menjamur, maka para pengelola desa wisata harus melakukan fungsi pemasaran yang lebih baik lagi agar lebih terkenal dan banyak dikunjungi, sehingga tujuan mensejahterakan masyarakat melalui kepariwisataan dapat tercapai. Dalam hal ini saya ingin berbagi mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh pengelola desa wisata dalam memasarkan desa wisatanya pada era ekonomi berbagi (sharing economy) dan era digital pada saat ini. Berikut adalah langkah-langkah dari pemasaran desa wisata: 

1. Identifikasi Produk

2. Rumuskan USPs (Unique Selling Proposition)

3. Tetapkan Target Pasar

4. Rumuskan Positioning

5. Bangun Identitas (brand)

6. Bangun Produk

7. Tetapkan Harga

8. Bangun Saluran Pemasaran

9. Lakukan Komunikasi Pemasaran

Penjelasan setiap langkah dapat dibaca pada link berikut :

9 langkah Pemasaran Desa Wisata | Pemasaran & Pariwisata


Kemenparekraf : 20 Destinasi Wisata Kuliner di Indonesia

 Hingga saat ini, kuliner masih menjadi salah satu ikon wisata yang dapat menarik banyak wisatawan dalam dan luar negeri. Kuliner khas Indonesia disukai karena bervariasi, memiliki cita rasa otentik, dan tentu saja enak.

Nah, berikut ini adalah 20 destinasi wisata kuliner di berbagai kota Tanah Air:
Jalan Sabang, Jakarta
Salah satu wisata kuliner ikonik di Jakarta yang menawarkan beragam kuliner legendaris. Salah satunya adalah Sate Jaya Agung sejak 1975. Kemudian ada Ben Seafood, Bakmi Roxy, dan berbagai kudapan nikmat lainnya. Rimba Jaya menyajikan beragam santapan khas Bintan dan Tanjung Pinang. Harga yang ditawarkan pun sangat aman di kantong, bahkan ketika Anda ingin berpesta seafood sekalipun.
Pecenongan, Jakarta
Salah satu destinasi wisata kuliner legendaris di Jakarta sejak 1970-an. Berbagai macam kuliner lezat dan legendaris bisa kita dapatkan di sini. Seperti Bubur Kwang Tung yang menawarkan bubur kepiting dan ayam Hainan, Martabak Pecenongan, dan olahan seafood yang menggugah selera.
Pasar Lama Tangerang
Tidak jauh dari ibu kota ada destinasi wisata kuliner Pasar Lama Tangerang. Beberapa varian makanan yang ada di sini adalah ketoprak, bakso, nasi goreng, sempol ayam, dan laksa. Selain itu, ada banyak minuman menyegarkan, seperti susu kedelai, kacang hijau, hingga es alpukat kocok.
Gang Selot, Bogor
Berlokasi di Jalan Ir H Juanda, Gang Selot menjadi salah satu destinasi wisata kuliner di Bogor sejak 1974. Kuliner yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari soto mi, doclang khas Bogor, bakso, hingga batagor. Gang Selot juga menawarkan minuman segar, seperti es pala, es podeng, dan es doger.
Suryakencana, Bogor
Ikon wisata kuliner legendaris di Bogor ini terletak di Jalan Suryakencana. Salah satu yang legendaris adalah Lumpia Basah yang ada sejak 1972. Kemudian laksa Bogor dengan cita rasa 13 jenis rempah, dan berbagai kuliner nusantara lainnya, seperti martabak arang, asinan, roti jadul, hingga bir kotjok.
Kawasan Pantai Padang
Ada banyak kuliner legendaris khas Padang yang bisa dicicipi, seperti pisang kapik yang dibakar di atas bara. Untuk menambah cita rasa, biasanya akan taburi parutan kelapa dan gula merah cair. Lalu ada karupuak leak, yang biasanya dihidangkan dengan kuah sate dengan topping bihun di atasnya.
Rimba Jaya & Melayu Square Tanjung Pinang
Jika berwisata ke Pulau Bintan, khususnya ke Kota Tanjung Pinang, Melayu Square dan Rimba Jaya Night Market dapat menjadi pilihan untuk wisata kuliner. Ratusan pedagang memadati pusat kuliner Melayu Square dan pasar malam Rimba Jaya setiap harinya, dari sore hingga tengah malam. Aneka ragam sajian khas Tanjung Pinang dan Pulau Bintan, dapat dinikmati dikedua pusat kuliner tersebut.
Gang Lombok, Semarang
Berlokasi di dekat Klenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok menjadi salah satu destinasi wisata kuliner populer di Semarang. Beberapa yang harus dicicipi adalah wedang tahu dan lumpia legendaris, Lumpia Gang Lombok. Selain itu ada kuliner segar Aneka Es Gang Lombok yang sudah ada sejak 1947.
Simpang Lima, Semarang
Tidak ketinggalan, wisata kuliner di Simpang Lima, Semarang. Banyak pilihan kuliner di sini, seperti Nasi Ayam Bu Sami dan Tahu Petis Prasojo khas Semarang. Selain itu yang cukup terkenal adalah kedai seafood Pak Jari, nasi pecel, dan nasi goreng babat.
Jalan Cibadak, Bandung
Ada banyak berbagai macam kuliner yang menggiurkan di Jalan Cibadak. Mulai dari soto khas Bandung dari kedai Soto Ojo Lali, bakso ikan goreng yang nikmat, hingga bakso tahu dan siomay yang lezat. Apabila ingin yang hangat, Ronde Jahe Alkateri yang sudah berdiri sejak 1980-an bisa jadi pilihan.
Braga, Bandung
Salah satu yang direkomendasikan untuk dikunjungi adalah Restoran Braga Permai, yang memiliki nuansa klasik khas kolonial. Berdiri sejak 1923, pengunjung dapat menikmati berbagai macam patisserie, dan es krim yang lezat.
Galabo, Solo
Tempat wisata kuliner ini terletak di Jalan Mayor Sunaryo, Solo. Diresmikan sejak 2008, wisata kuliner Galabo menjual berbagai hidangan legendaris, seperti Sate Kere Yu Rebi, Tengkleng Klewer Bu Ediyem, hingga Rawon Penjara.
Kampung Wijilan, Yogyakarta
Salah satu sentra gudeg di Yogyakarta yang kerap menjadi incaran wisatawan. Ada banyak kuliner gudeg legendaris khas Yogyakarta yang bisa dicicipi, seperti Gudeg Yu Djum, Bu Slamet, hingga Bu Lies. Selain makan di tempat, gudeg khas Yogyakarta juga bisa dijadikan oleh-oleh.
Pasar Beringharjo, Yogyakarta
Banyak kuliner murah di kawasan Malioboro dan Pasar Beringharjo seperti Pecel Senggol Beringharjo di dekat pintu masuk Pasar Beringharjo dan Gado-Gado Bu Hadi yang ada di lantai dua Pasar Beringharjo. Di sekitar Pasar Beringharjo ada pula jajanan Lumpia Samijaya yang tak kalah nikmat.
Alun-Alun Yogyakarta
Beberapa kuliner menarik yang ada di alun-alun Yogyakarta, seperti Soto Lenthok Pak Man dengan perkedel ketelanya yang khas. Lalu ada pula camilan populernya Cilok Gajahan yang dibuat dengan dari daging sapi yang lembut.
Kawasan Kuliner Jimbaran, Bali
Daerah wisata Jimbaran merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan di Pulau Bali. Selain memiliki Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana dan juga Dreamland, Jimbaran menawarkan banyak tempat untuk wisata kuliner yang menyajikan kelezatan hidangan laut. Salah satu pusat wisata kuliner di sepanjang Pantai Jimbaran, tiga di antaranya adalah Menega Cafe, Bela Seafood, dan Nelayan Reataurant.
Kya-Kya, Surabaya
Memiliki nuansa pecinan, ada banyak kuliner dengan perpaduan cita rasa Surabaya dengan makanan khas Tionghoa. Mulai dari kedai Bakwan Pak Di yang menjual bakso khas Surabaya, sate gule kambing, hingga berbagai macam olahan lainnya. Nah, salah satu penganan unik dari tempat ini adalah pia di Toko Pia Kemenangan.
Alun-Alun Malang
Kuliner pertama yang wajib dikunjungi adalah Toko Oen, berdiri sejak tahun 1930-an toko ini menawarkan es krim jadul yang segar dan nikmat. Kemudian Depot Hok Lay yang berdiri sejak 1946, dan menawarkan kesegaran susu sapi murni yang dikemas dalam botol kaca.
Alun-Alun Batu
Satu yang paling terkenal di Kota Batu adalah Pos Ketan Legenda 1967. Selain itu ada Lok-lok Satay yang terbuat dari seafood, dengan berbagai pilihan saus: saus tomat, sambal, mayonaise, barbeque, dan saus spesial menciptakan rasa yang lezat.
Pantai Losari, Makassar
Pisang epe menjadi salah satu kuliner khas di pantai Losari. Pisang epe terbuat dari pisang kepok yang dibakar, lalu disiram gula merah di atasnya. Tak ketinggalan banyak pula penjaja coto Makassar asli yang memadukan ketupat, jeroan sapi, dan kaldu yang lembut dengan cita rasa otentik.

Kriteria dan Tingkatan Desa Wisata

 Desa wisata merupakan salah satu program Pemerintah untuk mempercepat kebangkitan pariwisata. Program itu sekaligus menggerakkan dan menumbuhkan  perekonomian masyarakat pedesaan secara merata di seluruh Indonesia.

Tidak semua desa dapat dijadikan desa wisata, karena sekurangnya diperlukan 3 komponen untuk membangunnya:
  • Memiliki potensi wisata.
  • Melihat minat dan kesiapan masyarakat terhadap pengembangan destinasi wisata setempat.
  • Konsep desa wisata wajib unik.
4 tingkatan desa wisata:
Rintisan
  • Masih berupa potensi dan belum adanya kunjungan wisatawan.
  • Sarana dan prasarananya masih sangat terbatas.
  • Tingkat kesadaran masyarakat belum tumbuh.
Berkembang
  • Meski masih berupa potensi.
  • Sudah mulai dilirik untuk dikembangkan lebih jauh.
Maju
  • Masyarakatnya sudah sadar wisata.
  • Dana desa dipakai untuk mengembangkan potensi pariwisata.
  • Wilayahnya juga sudah dikunjungi banyak wisatawan.
Mandiri
  • Memiliki inovasi pariwisata dari masyarakat.
  • Destinasi wisata sudah diakui dunia.
  • Sarana dan prasarana memiliki standar
  • Pengelolaannya bersifat kolaboratif pentahelix.


Bagaimana Membuat Storytelling Untuk Mempromosikan Bisnis?



Meskipun namanya storytelling, dalam bisnis bukan berarti anda sepenuhnya menceritakan kisah atau dongeng masa lampu untuk menghibur orang-orang. Bukan.

Pakar Manajemen Kepemimpinan, Simon Sinek menyebutkan bahwa inti dari storytelling sebenarnya adalah menyampaikan value (nilai-nilai) perusahaan anda kepada konsumen.

Menurut Sinek, kesalahan banyak pelaku bisnis dan marketing adalah mereka terlalu fokus menceritakan tentang “apa” bisnis mereka. “Apa” produk mereka.

Padahal seharusnya, anda menceritakan “mengapa” anda melakukan bisnis itu.

Selengkapnya belajar story telling bisa akses blog / web di bawah ini :

(Panduan Lengkap) Storytelling & Penggunaannya Untuk Bisnis (edwardrhidwan.id)

Panduan Lengkap Storytelling (Keterampilan Bercerita) - Invent.id

Menulis Storytelling Agar Menarik dan Tidak Membosankan - Carolina Ratri

Cara Membuat Storytelling yang Menjadi Viral di Facebook (blogodolar.com)

Menulis dengan Gaya Story Telling (Bercerita dalam Tulisan) (evrinasp.com)

5 Cara Menggunakan Storytelling pada Sosial Media Marketing Anda – EliteMarketer.id


Thursday, March 18, 2021

Ahli Ekowisata Beberkan Inovasi Pengembangan Wisata di Masa Pandemi

 balitribune.co.id | Denpasar - Selama pandemi Covid-19 ini sebagian besar masyarakat Indonesia sudah memanfaatkan waktu rekreasi di rumah masing-masing. Mereka yang senang memasak lebih sering mencoba resep-resep baru. Bagi yang senang tanaman lebih banyak mengoleksi berbagai jenis tanaman, khususnya daun-daunan. Sedangkan bagi yang halamannya luas semakin intensif memelihara tanaman buah-buahan. Semua kegiatan yang menjadikan kreatif ini merupakan rekreasi bagi masyarakat, walaupun tidak melakukan perjalanan.

Lama kelamaan sebagian masyarakat mulai jenuh di rumah dan ingin kembali melakukan perjalanan (traveling) ke tempat wisata di luar tempat tinggalnya, mau itu jauh atau dekat. Hal ini sebenarnya wajar, namun, mengingat penyebaran Covid-19 utamanya disebabkan faktor kerumunan, ditambah banyak orang tanpa gejala (OTG), maka masyarakat perlu solusi, berupa destinasi wisata yang "aman dari Covid" atau setidaknya peluang terpapar Covid relatif rendah.

Menurut Ahli Ekowisata sekaligus Guru Besar Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. E.K.S. Harini Muntasib, perlu adanya inovasi pengembangan wisata di masa pandemi. Inovasi wisata saat ini dan yang masih harus dikerjakan di masa mendatang adalah wisata yang sesuai dengan protokol kesehatan. 

Misalkan ada suatu destinasi wisata menarik, maka harus mulai dihitung berapa kapasitas dan daya dukung kawasan untuk setiap hari kunjungan. Pengunjung juga perlu mendaftar di website tertentu jika ingin berwisata di tempat tersebut sesuai jadwal yang ada dan kuota harian yang bisa ditampung. "Perlu juga kita pikirkan jeda dari setiap kelompok kunjungan. Pengelola dan SDM untuk pelayanan perlu memastikan diri mereka bebas Covid-19," jelasnya dalam pesan elektroniknya yang diterima Bali Tribune, Senin (4/1).

Kata dia, pemerintah daerah saat ini sebetulnya bisa mengembangkan setiap destinasi yang ada di daerahnya dengan membantu mereka melalui website atau link untuk bisa dikunjungi wisatawan. Dengan cara ini peluang berkembangnya wisata daerah bisa merata dan tidak terkonsentrasi pada suatu destinasi, asalkan di dalam pelayanan semua juga belajar untuk memberikan yang terbaik. Prinsip saat ini dalam pengembangan wisata adalah semua bisa berjalan dengan baik. Roda perekonomian berjalan, tapi tetap sesuai protokol kesehatan.

Kemudian lanjut Harini memaparkan, inovasi tempat makan dan minum wisatawan sangat penting di masa pandemi. Ini perlu didesain ulang untuk menghindari penumpukan pengunjung. Inovasinya mulai dari cara penyajian hingga jenis yang disajikan, dan tentunya aman dari penularan Covid-19. 

Selanjutnya adalah inovasi waktu berwisata. Pemerintah dan perusahaan perlu menyusun cuti yang tidak harus bersamaan di akhir pekan, di hari besar, atau di akhir tahun. Cuti karyawan perlu disebar ke berbagai waktu sehingga kerumunan sangat berkurang. "Apabila kelak kita terbiasa dengan pola ini, destinasi wisata di berbagai daerah akan selalu buka, tapi pengunjungnya tak selalu massal, melainkan sesuai kuota dan daya dukungnya. Kelebihan lain inovasi ini adalah harga wisata relatif stabil," terang Harini.

Inovasi lainnya adalah branding wisata. Branding suatu lokasi wisata yang sudah mantap sebaiknya tidak diotak-atik lagi karena itu sudah terpateri bagi para calon wisatawan. Bali misalnya, satu pulau yang mempunyai branding budaya dan modal sosial luar biasa dengan upacara adat dan kepatuhan untuk tetap menjalankan ritual agamanya, yaitu Hindu Bali. Branding wisata halal lebih cocok untuk Pulau Lombok, sehingga ini yang patut dikembangkan. "Tidak elok jika kita mengubah branding destinasi wisata yang sudah sangat dikenal, misalnya menyamakan Bali dengan Lombok atau sebaliknya," tambahnya.

Branding suatu tempat wisata hendaknya unik, khas, dan tidak ada di tempat lain. Membuat Merlion di Madiun adalah contoh branding wisata yang sangat keliru, karena Merlion adalah branding Singapura. Kata dia dalam hal ini adalah tugas pemerintah. 

Mengingat, wisata ke depannya perlu dikembangkan dengan cara sehat dan berpikir utuh, bukan hanya dari satu sudut pandang saja. Artinya, semua aspek ini perlu dipertimbangkan supaya wisata tetap berjalan sebagaimana mestinya. Jangan pernah berpikir ala "kalau menurut saya,“ tetapi berpikir dari semua aspek," katanya. 

Ia menjelaskan, pertama, aspek fisik, seperti kondisi alam Indonesia dengan keindahan lautnya, variasinya, daratan dari pinggir pantai sampai gunung. Kedua, aspek kondisi iklim, cuaca, tanah, dan air. "Kita lihat branding masing-masing destinasi wisata yang sudah berkembang dan mendunia, atau yang populer di Indonesia," sebutnya. 

Ketiga, aspek biologi, Indonesia mempunyai tumbuhan dan satwa liar terbesar ketiga di dunia. Ini aset wisata yang luar biasa. Perlu dilihat mana yang belum dikembangkan. Keempat, aspek budaya dan sosial masyarakat. Setiap keputusan harus melihat perjalanan wisata itu sampai mana, sekarang ada kendala apa, dan untuk bisa berjalan lagi itu bagaimana. 

"Nah, bagaimana musibah pandemi Covid-19 ini bisa menjadi berkah wisata? Inovasi-inovasi tersebut adalah jawabannya. Pemerintah daerah perlu memanajemen pengembangan wisata dengan kesiapan setiap destinasi, kuota atau daya dukung, serta memahami segala bentuk dan konsekuensi pengambilan keputusan. Jangan pernah promosi wisata, tapi manajemen destinasinya tidak paham.

Seluruh pelaku wisata perlu memahami pentingnya protokol kesehatan, menerapkan dengan baik, dan membuat bentuk-bentuk wisata baru yang sesuai dengan itu. Ia menuliskan, sudah saatnya membuang jauh-jauh prinsip berebut wisatawan. Justru sekarang waktunya daerah saling berbagi wisatawan, dalam artian ketika sebuah destinasi sudah melebihi kapasitas wisata berdasarkan protokol kesehatan, maka perlu membagi wisatawan ke destinasi lainnya. Apabila fasilitas atau pelayanan destinasi di sebelah kurang memadai, maka perlu kerja sama dengan destinasi yang lebih siap.

Pandemi Covid-19 ini mengajarkan pelaku wisata, destinasi, juga pihak-pihak yang mendukung untuk saling bekerja sama, bukan bersaing dan saling menjatuhkan. "Bila hal ini dapat dilaksanakan, alangkah luar biasa pendapatan negara kita dari sektor pariwisata. Tidak ada yang terlalu unggul, melainkan semua mendapatkan kesempatan sama," tutupnya.


sumber : Ahli Ekowisata Beberkan Inovasi Pengembangan Wisata di Masa Pandemi | Bali Tribune