Kami berlima berdiri di kaki Gunung Slamet saat pagi masih malu-malu. Kabut tipis menggantung, bau tanah basah menenangkan. Aku—Damar—berdiri di tengah, flanel kotak-kotak merah menempel rapi, tas punggung setia menahan beban cerita. Di sekelilingku ada empat perempuan dengan gaya anak gunung yang selaras, langkahnya ringan, matanya menyimpan harap masing-masing.
Ada Ayuk, tenang dan keibuan, tatapannya selalu lebih dulu menenangkan sebelum bertanya. Nara, ceria dan spontan, tawanya paling cepat pecah. Lintang, pendiam namun tajam, selalu berjalan sedikit di belakang, mengamati. Dan Saka, tangguh, topi hijaunya miring, langkahnya paling pasti di tanjakan.
“Target hari ini bukan puncak,” kataku sambil tersenyum.
“Targetnya kebersamaan,” sahut Nara, disambut anggukan yang lain.
Jalur awal ramah. Kami bercanda, saling tukar bekal, tertawa karena hal-hal kecil. Tapi gunung selalu jujur—ia menguji bukan hanya kaki, melainkan perasaan. Di tanjakan curam setelah pos pertama, dinamika itu mulai terasa. Ayuk merapikan tali sepatuku tanpa diminta. Saka menawariku air dengan tatap serius. Nara menggandeng lenganku saat batu licin. Lintang hanya berkata, “Pelan,” tapi suaranya membuatku berhenti.
Aku bingung—dan Slamet seolah menikmati kebingungan itu.
Di bawah pohon besar, kami istirahat. Angin dingin datang tiba-tiba.
“Dam,” ujar Ayuk pelan, “kalau lelah, bilang.”
“Kalau ragu, bilang,” tambah Lintang, menatap lurus.
“Kalau jatuh, aku tangkap,” kata Saka singkat.
“Kalau senang, ketawa dong!” Nara menutup dengan tawa.
Aku tertawa—tapi dada bergetar. Cinta berempat ini bukan tentang memilih siapa paling dekat, melainkan memahami apa yang paling benar.
Menjelang senja, kami tiba di sabana kecil. Langit menguning. Aku berdiri, menarik napas. “Aku nggak bisa memberi harap yang berbeda-beda,” kataku jujur. “Aku hanya bisa memberi kejujuran.”
Sunyi. Lalu Ayuk tersenyum, hangat. “Bahagia itu bukan selalu memiliki.”
Saka mengangguk. “Bahagia itu saling menguatkan.”
Lintang berkata pelan, “Bahagia itu berani melepaskan.”
Nara menepuk pundakku. “Bahagia itu sampai bareng.”
Malam itu, di bawah langit bertabur bintang, kami berpelukan—bukan sebagai yang kalah atau menang, tapi sebagai lima sekawan yang memilih utuh. Pagi esoknya, kami melangkah ke puncak. Di sana, di atas Slamet, kami foto bersama—senyum tanpa beban.
Cinta yang rumit itu berakhir bahagia karena kami memilih satu hal yang sama: menjaga langkah, menjaga hati, dan pulang sebagai keluarga.

