Wednesday, December 24, 2025

Cerpen : Lima Langkah Menuju Bahagia

 


Kami berlima berdiri di kaki Gunung Slamet saat pagi masih malu-malu. Kabut tipis menggantung, bau tanah basah menenangkan. Aku—Damar—berdiri di tengah, flanel kotak-kotak merah menempel rapi, tas punggung setia menahan beban cerita. Di sekelilingku ada empat perempuan dengan gaya anak gunung yang selaras, langkahnya ringan, matanya menyimpan harap masing-masing.

Ada Ayuk, tenang dan keibuan, tatapannya selalu lebih dulu menenangkan sebelum bertanya. Nara, ceria dan spontan, tawanya paling cepat pecah. Lintang, pendiam namun tajam, selalu berjalan sedikit di belakang, mengamati. Dan Saka, tangguh, topi hijaunya miring, langkahnya paling pasti di tanjakan.

“Target hari ini bukan puncak,” kataku sambil tersenyum.
“Targetnya kebersamaan,” sahut Nara, disambut anggukan yang lain.

Jalur awal ramah. Kami bercanda, saling tukar bekal, tertawa karena hal-hal kecil. Tapi gunung selalu jujur—ia menguji bukan hanya kaki, melainkan perasaan. Di tanjakan curam setelah pos pertama, dinamika itu mulai terasa. Ayuk merapikan tali sepatuku tanpa diminta. Saka menawariku air dengan tatap serius. Nara menggandeng lenganku saat batu licin. Lintang hanya berkata, “Pelan,” tapi suaranya membuatku berhenti.

Aku bingung—dan Slamet seolah menikmati kebingungan itu.

Di bawah pohon besar, kami istirahat. Angin dingin datang tiba-tiba.
“Dam,” ujar Ayuk pelan, “kalau lelah, bilang.”
“Kalau ragu, bilang,” tambah Lintang, menatap lurus.
“Kalau jatuh, aku tangkap,” kata Saka singkat.
“Kalau senang, ketawa dong!” Nara menutup dengan tawa.

Aku tertawa—tapi dada bergetar. Cinta berempat ini bukan tentang memilih siapa paling dekat, melainkan memahami apa yang paling benar.

Menjelang senja, kami tiba di sabana kecil. Langit menguning. Aku berdiri, menarik napas. “Aku nggak bisa memberi harap yang berbeda-beda,” kataku jujur. “Aku hanya bisa memberi kejujuran.”

Sunyi. Lalu Ayuk tersenyum, hangat. “Bahagia itu bukan selalu memiliki.”
Saka mengangguk. “Bahagia itu saling menguatkan.”
Lintang berkata pelan, “Bahagia itu berani melepaskan.”
Nara menepuk pundakku. “Bahagia itu sampai bareng.”

Malam itu, di bawah langit bertabur bintang, kami berpelukan—bukan sebagai yang kalah atau menang, tapi sebagai lima sekawan yang memilih utuh. Pagi esoknya, kami melangkah ke puncak. Di sana, di atas Slamet, kami foto bersama—senyum tanpa beban.

Cinta yang rumit itu berakhir bahagia karena kami memilih satu hal yang sama: menjaga langkah, menjaga hati, dan pulang sebagai keluarga.

Cerpen : Cintaku Tertinggal di Desa Wisata Kandri

Aku, Damar—flanel kotak-kotak biru yang selalu melekat di badan, tas punggung setia di punggung, dan langkah yang lebih sering akrab dengan tanah daripada lantai kota—menyusuri jalan batu di Desa Wisata Kandri sore itu. Angin membawa aroma sawah basah, suara sungai kecil berkejaran dengan tawa anak-anak. Kandri selalu punya cara membuat siapa pun ingin tinggal lebih lama.

Ayuk berjalan di sampingku. Jaket gunung pink-nya kontras dengan hijau desa. Rambut panjangnya diikat sederhana, kulit sawo matang itu memantulkan cahaya senja. Ia tampak tenang, keibuan, seperti biasa—tenang yang sering membuatku lupa bertanya lebih jauh.

“Tempat ini enak ya, Dam,” katanya sambil menatap rumah-rumah joglo. “Hangat. Manusiawi.”

Aku mengangguk. “Kayak kamu.”

Ia tersenyum kecil, lalu tertawa menutupinya. Kami duduk di tepi sungai, kaki menggantung, air mengalir pelan seolah tak ingin mengganggu. Aku bercerita tentang rencana pendakian berikutnya, tentang jalur yang ingin kutapaki. Ayuk mendengarkan—selalu mendengarkan.

“Yuk,” kataku akhirnya, suara sedikit bergetar. “Kalau suatu hari aku berhenti mendaki, kamu mau nemenin aku tinggal di tempat kayak gini?”

Ayuk terdiam. Lama. Angin seperti menahan napas.

“Damar,” ucapnya pelan, “kamu selalu bertanya soal masa depan dengan peta gunung. Aku… bertanya dengan kalender.”

Aku menoleh. “Maksudmu?”

Ia menatap aliran air. “Aku dapat penempatan PPL. Tetap. Di Kandri.”

Dadaku berdegup. “Itu… kabar baik.”

“Iya,” katanya tersenyum. “Tapi bukan kabar lengkap.”

Aku menunggu. Senja makin merunduk.

“Aku akan menikah,” katanya lirih. “Dengan pilihan keluarga. Aku menerimanya. Karena kadang mencintai berarti belajar merelakan.”

Kata-kata itu jatuh satu per satu, seperti batu ke sungai. Aku tertawa kecil—tawa yang salah tempat. “Terus aku ini apa, Yuk?”

Ia menoleh, mata berkaca. “Kamu adalah perjalanan yang mengajarkanku berani bermimpi. Tapi rumah… aku menemukannya di sini.”

Aku berdiri. Flanel biru terasa berat. Tas punggungku seakan memanggil jalan pulang. “Jadi… Kandri menyimpan cintaku?”

Ayuk berdiri juga. Ia mendekat, memelukku—lama, sunyi, jujur. “Bukan cintamu yang tertinggal,” bisiknya. “Keberanianmu.”

Kami berpisah tanpa janji. Aku melangkah pergi, melewati joglo, melewati senyum-senyum desa. Di tikungan terakhir, aku menoleh. Ayuk berdiri di sana, jaket pink-nya menyala di senja.

Aku paham sekarang: cintaku tak patah—ia tinggal. Di Desa Wisata Kandri, menjadi bagian dari aliran yang terus berjalan, mengajarkanku satu hal paling berat dari semua pendakian—turun dengan ikhlas.