Tuesday, October 11, 2016

Kenang aku dihatimu seperti ibumu dan biarkan aku tetap menjadi gayatrimu


Malam ini tidak seperti hari-hari sebelumnya. Banyak pikiran melintas di kepalaku. Bayang-bayang masa lalu muncul secara tiba-tiba menguak kisah lama yang penuh suka cita. Kisah tentang upasara wulung "lelananging jagad" yang menjadikan Diah Ayu Gayatri sebagai wanita pujaannya sepanjang masa, Kisah Damar yang bermalam minggu With R, kisah kasih di Ruang Pustaka Raja, Kisah duka Upo yang bercerita tentang kerak nasi dan masih banyak cerita-cerita yang mampir di kepalaku.

Berawal dari kekaguman seorang damar kemudian berlanjut menjadi kisah cinta yang penuh haru biru dengan segala kerinduan, kehangatan dan juga tetesan air mata. Kisah cinta dengan latar belakang di arena perlombaan, hutan belantara, puncak gunung dan bahkan forum diskusi panas tentang leadership. Sulit di ungkapkan dengan kata dan kalimat yang utuh untuk menggambarkan betapa kuat dan hebatnya rasa ini.Andai saja SH. Mintardja atau Asmaraman S, Ko, Ping Ho masih hidup dan diminta untuk mengisahkan cerita ini, bisa jadi ratingnya mengalahkan kisah cinta antara endang widuri dengan arya saloka, atau mahesa jenar dengan rara wilis, atau bahkan bisa mengalahkan kisah legendaris upasara wulung dengan diah ayu gayatri.

layaknya sebuah kisah kasih dimana ada pertemuan juga pasti ada perpisahan. Kisah ini berawal dari Malming with R. Janjian malam minggu ala anak baru gede disebuah tempat nongkrong yang terkenal. Dan cerita ini akan segera berakhir di sebuah tempat pestanya para pendaki. Penasaran? tunggu lanjutannya dalam cerita bersambung "Kenang aku dihatimu seperti ibumu dan biarkan aku tetap menjadi gayatrimu"



No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.