Monday, December 22, 2025

Cerbung Episode 1 — Getar Pertama di Ketinggian

 



Langkahku terhenti di sebuah jembatan kayu tua. Angin berembus pelan, membawa bau tanah basah yang begitu kukenal, bau yang selalu berhasil membuka laci ingatan tanpa izin. Di titik ini, entah mengapa dadaku bergetar. Bukan karena dingin, bukan pula karena lelah. Ada rindu yang tiba-tiba menyeruak, rindu yang tak pernah kutitipkan pada siapa pun, rindu yang selama ini kupikir telah selesai.

Aku berdiri memandangi jalur setapak yang memanjang ke atas, menyusuri punggung gunung seperti garis nasib yang tak pernah lurus. Setiap batu, setiap akar yang mencuat dari tanah, terasa seperti saksi bisu dari perjalanan-perjalanan lama yang pernah kulalui—bersama orang-orang yang dulu kusebut kawan, saudara, bahkan keluarga di jalan sunyi bernama pendakian.

Dadaku berdegup lebih kencang saat kusadari satu hal sederhana namun menyakitkan: aku kembali, sementara banyak dari mereka tidak.

Entah sudah berapa tahun aku tak menjejakkan kaki di jalur ini. Waktu telah membawaku ke banyak tempat—ruang-ruang rapat, meja kerja, lorong-lorong kota yang bising—namun selalu ada bagian dari diriku yang tertinggal di ketinggian. Bagian yang tak pernah benar-benar pulang. Dan hari ini, tanpa seremoni, tanpa pengumuman pada siapa pun, aku kembali menjemputnya.

Aku menarik napas panjang. Udara gunung masuk ke paru-paruku dengan jujur, tanpa basa-basi. Tidak seperti udara kota yang penuh kompromi. Di sini, segalanya apa adanya. Dingin ya dingin. Lelah ya lelah. Tak ada yang perlu disembunyikan.

“Kenapa aku selalu kembali ke tempat ini?” gumamku pelan, entah pada siapa.

Pertanyaan itu tak menuntut jawaban. Ia hanya hadir, seperti banyak pertanyaan lain yang sepanjang hidup ini menemaniku tanpa pernah benar-benar terjawab.

Langkahku berlanjut. Setiap pijakan seperti membuka satu halaman kenangan. Aku teringat wajah-wajah yang dulu berjalan di depanku sambil tertawa keras, juga mereka yang berjalan di belakangku dengan napas tersengal namun mata berbinar. Kami pernah sama-sama yakin bahwa gunung adalah rumah kedua, bahwa alam adalah guru terbaik, bahwa kebersamaan cukup untuk menaklukkan segalanya.

Dulu.

Aku tersenyum kecil, senyum yang lebih mirip pengakuan daripada kebahagiaan. Betapa mudahnya dulu mengucap kata “pecinta alam”, seolah ia hanyalah label yang bisa disematkan begitu saja setelah satu dua kali mendaki. Betapa ringannya lidah ini menyebut cinta, tanpa benar-benar memahami tanggung jawab di baliknya.

Langkah demi langkah membawaku semakin masuk ke dalam jalur. Suara dedaunan bergesek, sesekali burung berkicau, selebihnya sunyi. Sunyi yang tidak menakutkan, justru menenangkan. Sunyi yang memaksaku untuk mendengar suaraku sendiri—suara yang selama ini tenggelam oleh kebisingan dunia.

Aku teringat percakapan-percakapan lama. Diskusi panjang di basecamp, perdebatan tentang makna pendakian, tentang idealisme, tentang siapa kita sebenarnya di hadapan alam. Dulu aku selalu bersemangat ikut berbicara, menyampaikan pendapat seolah telah memahami segalanya. Kini, di jalur ini, aku justru lebih banyak diam.

Mungkin karena aku mulai mengerti bahwa tidak semua hal perlu dijelaskan. Beberapa cukup dirasakan.

Keringat mulai membasahi pelipisku. Napasku teratur, namun pikiranku berkelana. Aku tidak tahu apa yang kucari dengan kembali ke gunung ini. Apakah aku ingin bertemu kenangan? Ataukah aku sekadar ingin lari sejenak dari hidup yang terasa terlalu rapi, terlalu terjadwal?

Atau mungkin, diam-diam, aku ingin memastikan bahwa aku masih manusia yang sama—yang bisa terharu oleh kabut pagi, yang bisa menangis tanpa sebab di ketinggian, yang masih mampu merasa kecil di hadapan semesta.

Aku berhenti sejenak, menoleh ke belakang. Jalur yang kulalui tampak mengecil, sebagian tertutup kabut tipis. Seperti masa lalu: masih ada, tapi tak lagi bisa kugenggam utuh. Aku sadar, perjalanan ini bukan tentang mencapai puncak secepat mungkin. Ini tentang keberanian untuk melangkah, meski tak yakin apa yang menunggu di atas sana.

“Pelan saja,” kataku pada diri sendiri.

Gunung tidak pernah meminta kita berlari. Ia selalu sabar menunggu.

Langit mulai berubah warna. Cahaya sore menyelinap di sela-sela pepohonan, menciptakan bayangan panjang di jalur. Di momen itu, aku merasakan sesuatu yang lama tak kurasakan: kehadiran. Aku benar-benar ada di sini. Tidak terjebak di masa lalu, tidak cemas akan hari esok.

Hanya aku, langkahku, dan jalur yang terus menanjak.

Entah apa yang akan kutemui nanti—jawaban, pertanyaan baru, atau mungkin hanya kelelahan yang menyadarkan—aku tidak tahu. Yang kutahu, perjalanan ini telah dimulai. Dan seperti semua perjalanan yang jujur, ia tidak menjanjikan apa-apa selain kemungkinan untuk mengenal diri sendiri sedikit lebih dekat.

Aku melangkah lagi, meninggalkan jembatan kayu di belakangku. Getar di dadaku belum juga reda. Tapi kali ini, aku membiarkannya. Karena mungkin, getar inilah tanda bahwa aku masih hidup.

catatan : sketsa gambar dihasilkan dengan AI

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.