Awan dikenal di kampus sebagai aktivis mahasiswa yang jarang absen dari barisan diskusi dan barisan gunung. Tubuhnya atletis, wajahnya ganteng dan hampir selalu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dengan tas punggung setia di bahu. Malam itu, malam minggu, ia hendak menengok Pendidikan Dasar Pecinta Alam di lereng Merapi, tepat di belakang rumah almarhum Mbah Marijan, hingga Gua Jepang.
Rencananya sederhana. Datang, menengok, lalu pulang.
Namun rencana sering kalah oleh satu hal: Ninis.
“Aku ikut,” kata Ninis sambil menyilangkan tangan, nada suaranya datar tapi tak memberi celah.
“Ini malam, Nin. Lereng Merapi. Gelap,” jawab Awan.
“Makanya aku ikut kamu.”
Ninis gadis polos berambut panjang, kulitnya hitam manis terbakar matahari, wajahnya cenderung bulat, tubuhnya langsing bahkan hampir kurus. Tatapannya tenang, tapi keras kepala. Awan menyerah.
Perjalanan naik terasa biasa—sampai gelap benar-benar menelan lereng Merapi. Angin menyapu dedaunan, kabut turun pelan, dan lampu senter seperti titik kecil yang mudah hilang.
Sejak itu, Ninis berubah.
Sejak saat itu, Ninis nempel. Mau wudhu minta diantar. Mau sholat minta ditungguin.
Awan menghela napas, pasrah.
Kebersamaan yang runtang-runtung itu tak luput dari mata para senior pecinta alam. Bisik-bisik mulai beredar, senyum setengah mengejek, tatapan penuh tafsir.
Ninis mulai gelisah. Tatapannya tak lagi nyaman.
“Awan,” katanya pelan. “Aku pengen turun.”
Mereka turun, menembus malam. Sekitar pukul tiga dini hari, Tugu Jogja berdiri sunyi, lampu-lampu menyala lembut. Jalanan lengang. Kota seperti menahan napas.
Setelahnya, kantuk datang bersamaan. Mereka mencari penginapan kecil, hanya untuk tidur sejenak sebelum lanjut ke Pantai Siung.
Di kamar sempit dengan lampu temaram, sunyi kembali menyergap—tapi kali ini bukan sunyi yang menakutkan.
Awan tersenyum. Mereka saling menatap, jarak menipis tanpa rencana. Detik berjalan lambat. Nafas mereka saling bersentuhan.
Tanpa kata, Awan mendekat.
Ninis memejamkan mata.
Ciuman itu singkat, ragu, hangat. Ninis tersenyum malu, menunduk, lalu menyembunyikan wajahnya di dada Awan.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.