Sunday, December 21, 2025

Kisah Cinta Antara Lereng Merapi dan Tugu Jogja

Awan dan Ninis di Tugu Jogja

Awan dikenal di kampus sebagai aktivis mahasiswa yang jarang absen dari barisan diskusi dan barisan gunung. Tubuhnya atletis, wajahnya ganteng dan hampir selalu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dengan tas punggung setia di bahu. Malam itu, malam minggu, ia hendak menengok Pendidikan Dasar Pecinta Alam di lereng Merapi, tepat di belakang rumah almarhum Mbah Marijan, hingga Gua Jepang.

Rencananya sederhana. Datang, menengok, lalu pulang.

Namun rencana sering kalah oleh satu hal: Ninis.

“Aku ikut,” kata Ninis sambil menyilangkan tangan, nada suaranya datar tapi tak memberi celah.

“Ini malam, Nin. Lereng Merapi. Gelap,” jawab Awan.

“Makanya aku ikut kamu.”

Ninis gadis polos berambut panjang, kulitnya hitam manis terbakar matahari, wajahnya cenderung bulat, tubuhnya langsing bahkan hampir kurus. Tatapannya tenang, tapi keras kepala. Awan menyerah.

Perjalanan naik terasa biasa—sampai gelap benar-benar menelan lereng Merapi. Angin menyapu dedaunan, kabut turun pelan, dan lampu senter seperti titik kecil yang mudah hilang.

Sejak itu, Ninis berubah.

“Awan…” suaranya mengecil, tangannya menarik lengan flanel Awan.
“Kamu kenapa?”
“Gelap.”

Sejak saat itu, Ninis nempel. Mau wudhu minta diantar. Mau sholat minta ditungguin.

“Awan, jangan ke mana-mana ya.”
“Aku di sini, Nin.”

Bahkan ketika ia berbisik paling pelan,
“Awan… aku mau pipis.”

Awan terdiam.
“Di toilet sana.”
“Temenin.”
“Di luar aja, Nin.”
“Di dalem. Gelap…”

Awan menghela napas, pasrah.

Kebersamaan yang runtang-runtung itu tak luput dari mata para senior pecinta alam. Bisik-bisik mulai beredar, senyum setengah mengejek, tatapan penuh tafsir.

“Itu pacarnya ya?”
“Kayaknya lebih dari itu.”
“Baru juga datang.”

Ninis mulai gelisah. Tatapannya tak lagi nyaman.

“Awan,” katanya pelan. “Aku pengen turun.”

“Sekarang?”
“Iya. Ke Tugu Jogja.”

Awan menatap jam tangan. Hampir tengah malam.
“Kamu mau apa di Tugu?”
“Foto. Sepi. Aku pengen.”

Mereka turun, menembus malam. Sekitar pukul tiga dini hari, Tugu Jogja berdiri sunyi, lampu-lampu menyala lembut. Jalanan lengang. Kota seperti menahan napas.

Ninis berdiri di depan tugu, rambutnya tergerai, senyum kecil muncul.
“Ambilin aku foto ya.”
Awan mengangguk, mengabadikan momen yang terasa sederhana tapi hangat.

Setelahnya, kantuk datang bersamaan. Mereka mencari penginapan kecil, hanya untuk tidur sejenak sebelum lanjut ke Pantai Siung.

Di kamar sempit dengan lampu temaram, sunyi kembali menyergap—tapi kali ini bukan sunyi yang menakutkan.

Ninis duduk di tepi ranjang.
“Awan…”
“Kenapa?”
“Makasih ya.”

Awan tersenyum. Mereka saling menatap, jarak menipis tanpa rencana. Detik berjalan lambat. Nafas mereka saling bersentuhan.

Tanpa kata, Awan mendekat.

Ninis memejamkan mata.

Ciuman itu singkat, ragu, hangat. Ninis tersenyum malu, menunduk, lalu menyembunyikan wajahnya di dada Awan.

“Jangan ketawa,” katanya pelan.
“Aku nggak ketawa,” jawab Awan sambil tertawa kecil.

Di luar, Jogja tetap sunyi.
Di dalam kamar kecil itu, dua hati menemukan sesuatu yang tak diduga—
namun diam-diam, diharapkan.

Sketsa Foto digambar dengan AI

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.