Kabut pagi masih setia menggantung di lereng Sumbing ketika aku—Damar—melangkah perlahan di jalur setapak yang basah oleh embun. Flanel kotak-kotak biru yang kupakai terasa hangat di tubuh, sehangat rindu yang entah sejak kapan berdiam di dada. Rambutku rapi, belah kiri, seperti kebiasaan lama sebelum mendaki. Tas punggung biru menempel setia di punggung, sementara celana lapangan hitam Eiger sudah akrab dengan lumpur dan batu.
Gunung selalu jujur padaku. Ia tak pernah bertanya siapa aku di bawah sana. Ia hanya meminta napas, langkah, dan kejujuran pada diri sendiri.
Di tikungan kecil yang menghadap lembah, aku melihatnya.
Ayuk.
Ia berdiri dengan jaket gunung pink, rambut panjangnya tergerai sederhana, kulit sawo matang memantulkan cahaya pagi, dan senyum itu—senyum yang dulu sering menguatkanku di masa-masa kuliah. Cantik, keibuan, tenang. Seolah lereng ini memang diciptakan untuk menyambutnya.
“Masih pakai flanel kotak-kotak juga, Dam?” katanya sambil tersenyum.
Aku terkekeh kecil. “Dan kamu masih suka warna pink. Gunung nggak pernah protes, kan?”
Kami berjalan berdampingan. Langkah kami seirama, kadang terdiam, kadang diisi obrolan ringan—tentang jalan hidup yang berkelok, tentang kelas-kelas yang ia ajar sebagai mahasiswi keguruan, tentang gunung-gunung yang kucumbu dengan peluh. Angin sesekali menyibak kabut, memperlihatkan jurang hijau yang dalam, membuat kami berhenti dan menarik napas panjang.
Di sebuah tanah datar, kami duduk. Lereng Sumbing terbentang, luas dan sunyi. Sunyi yang jujur.
“Ayuk,” kataku pelan, menatap ke depan, bukan ke arahnya. “Ada hal yang lama kupendam. Mungkin gunung ini tempat yang tepat.”
Ia menoleh. Diam.
“Aku suka caramu mendengarkan,” lanjutku. “Caramu hadir tanpa menuntut. Seperti jalur pendakian—tak memaksa, tapi mengantar.”
Ayuk tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Aku juga, Dam. Kamu selalu pulang ke gunung… dan entah kenapa, aku ingin jadi bagian dari perjalanan itu.”
Tak ada tepuk tangan. Tak ada sorak. Hanya angin dan kabut yang menjadi saksi.
Aku berdiri, mengulurkan tangan. Ia menyambut. Lalu, tanpa kata, kami berpelukan. Lama. Sangat lama. Diam yang hangat. Peluk mesra yang menenangkan, seolah seluruh rindu menemukan rumahnya. Lereng Sumbing menyimpan kami dalam sunyi, dan waktu pun memilih berhenti sejenak—menghormati dua hati yang akhirnya berani jujur.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.