Bambang tahu benar kelebihan yang ia miliki. Tubuhnya tinggi, kurus, wajahnya bersih dengan senyum yang mudah membuat orang betah mendengar suaranya—tak heran ia jadi penyiar radio favorit pendengar malam. Banyak perempuan datang dan pergi, dan Bambang tak pernah menolak kenyataan itu. Ia menikmati reputasinya sebagai playboy, berganti pacar seperti mengganti lagu di playlist.
Hingga suatu sore, hidupnya tersandung—secara harfiah.
Gadis itu mendongak. Kulitnya hitam manis, rambut panjang tergerai, tubuhnya langsing dengan gaya yang sedikit tomboy. Matanya tajam tapi senyumnya hangat.
“Mas, kalau nabrak itu pakai klakson, bukan pakai badan,” katanya sambil tertawa kecil.
Bambang terdiam. Untuk pertama kalinya, ia lupa membalas rayuan.
Namanya Guretno.
Sejak hari itu, Bambang berubah jadi pengejar. Ia mencari-cari cara mendapatkan nomor Guretno, hingga akhirnya mendapatkannya dari seorang teman. Pesan pertama terkirim. Ditolak. Ajakan kedua—ditolak lagi. Ketiga, keempat, hingga keempat belas—semuanya sama.
Bambang datang lebih awal. Jantungnya tak setenang biasanya. Guretno muncul dengan kaus sederhana dan senyum tipis.
“Mau ngomong apa sampai maksa begini?” tanya Guretno.
Penolakan itu datang lagi. Halus, tenang. Tapi Bambang tak berhenti. Ia hadir, mendengar, menemani—tanpa memaksa. Pengakuan demi pengakuan ia sampaikan, hingga yang kelima belas bukan lagi rayuan, melainkan kejujuran.
“Aku jatuh cinta, Retno. Dan kali ini, aku nggak main-main.”
Sunyi jatuh di antara mereka. Guretno menatapnya lama, lalu tersenyum malu.
Pelukan itu datang duluan dari Guretno. Hangat, ragu, tapi tulus. Bibir mereka bertemu singkat, lembut—cukup untuk menyepakati perasaan yang sama-sama diharapkan.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.