Sunday, December 21, 2025

Kesandung Cinta Guretno di Tugu Muda

Bambang dan Guretno

Bambang tahu benar kelebihan yang ia miliki. Tubuhnya tinggi, kurus, wajahnya bersih dengan senyum yang mudah membuat orang betah mendengar suaranya—tak heran ia jadi penyiar radio favorit pendengar malam. Banyak perempuan datang dan pergi, dan Bambang tak pernah menolak kenyataan itu. Ia menikmati reputasinya sebagai playboy, berganti pacar seperti mengganti lagu di playlist.

Hingga suatu sore, hidupnya tersandung—secara harfiah.

“Eh—maaf!”
Bambang refleks menahan tubuh seorang gadis yang hampir terjatuh di pinggir bunderan Tugu Muda.

Gadis itu mendongak. Kulitnya hitam manis, rambut panjang tergerai, tubuhnya langsing dengan gaya yang sedikit tomboy. Matanya tajam tapi senyumnya hangat.

“Mas, kalau nabrak itu pakai klakson, bukan pakai badan,” katanya sambil tertawa kecil.

Bambang terdiam. Untuk pertama kalinya, ia lupa membalas rayuan.

Namanya Guretno.

Sejak hari itu, Bambang berubah jadi pengejar. Ia mencari-cari cara mendapatkan nomor Guretno, hingga akhirnya mendapatkannya dari seorang teman. Pesan pertama terkirim. Ditolak. Ajakan kedua—ditolak lagi. Ketiga, keempat, hingga keempat belas—semuanya sama.

“Mas Bambang nggak capek?” tulis Guretno suatu hari.
“Kalau capek, aku berhenti. Tapi kalau belum dapat kamu, aku masih kuat,” balas Bambang.

Ajakan kelima belas datang tanpa ekspektasi.
“Aku traktir kopi. Di Kota Lama. Kalau kamu nolak, aku nggak akan ganggu lagi.”

Lama tak ada balasan. Hingga akhirnya:
“Ya sudah. Taman Sri Gunting. Sore.”

Bambang datang lebih awal. Jantungnya tak setenang biasanya. Guretno muncul dengan kaus sederhana dan senyum tipis.

“Mau ngomong apa sampai maksa begini?” tanya Guretno.

Bambang menarik napas.
“Aku kagum sama kamu. Bukan karena cantikmu saja, tapi caramu tertawa, caramu jujur. Aku ingin kamu jadi pacarku.”

Guretno menunduk.
“Aku tahu reputasi kamu, Mas. Aku nggak mau jadi daftar nama.”

Bambang tersenyum kecil.
“Kalau kamu takut aku berubah, justru kamu alasannya.”

Penolakan itu datang lagi. Halus, tenang. Tapi Bambang tak berhenti. Ia hadir, mendengar, menemani—tanpa memaksa. Pengakuan demi pengakuan ia sampaikan, hingga yang kelima belas bukan lagi rayuan, melainkan kejujuran.

“Aku jatuh cinta, Retno. Dan kali ini, aku nggak main-main.”

Sunyi jatuh di antara mereka. Guretno menatapnya lama, lalu tersenyum malu.

“Kamu ini bandel,” katanya pelan.
“Karena kamu layak diperjuangkan.”

Pelukan itu datang duluan dari Guretno. Hangat, ragu, tapi tulus. Bibir mereka bertemu singkat, lembut—cukup untuk menyepakati perasaan yang sama-sama diharapkan.

Di antara bangunan tua Kota Lama, Bambang akhirnya tahu:
tidak semua pendakian tentang menaklukkan puncak.
Sebagian tentang berani menetap.

 

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.