Aku kembali ke tempat itu. Bukan karena yakin dia akan ada di sana, tapi karena ada bagian dari diriku yang tertinggal.
Pagi di Pantai Siung tidak pernah benar-benar ramah. Angin asin menusuk hidung, ombak menghantam karang seperti orang marah yang tak menemukan lawan bicara. Aku berdiri agak jauh dari jurang—belajar dari kebodohan kemarin—tapi mataku tetap mencari-cari, seolah gadis berkaos putih itu bisa muncul begitu saja dari balik semak, tertawa, lalu berkata:
“Kenapa wajahmu kayak orang habis kehilangan dompet?”
Tapi tidak.
Yang ada hanya sunyi, dan suara debur ombak yang seperti sengaja mempermalukanku.
Aku duduk di atas batu besar. Batu yang sama, posisi yang hampir sama. Bedanya, kali ini aku sendirian. Tidak ada obrolan ngalor-ngidul. Tidak ada hujan. Tidak ada tawa yang datang tiba-tiba lalu pergi tanpa pamit.
Tanganku merogoh saku jaket.
Kosong.
Tapi ingatan tidak.
Semalam di hutan itu kembali muncul di kepalaku. Api unggun kecil, suara serangga, dan dia—duduk bersandar pada ranselnya, menatap api tanpa benar-benar melihat apa pun. Saat itu aku mengira dia hanya lelah. Atau sedang menikmati diam. Aku tidak bertanya. Aku memilih membiarkan. Kupikir diam adalah bentuk kedewasaan.
Ternyata diam juga bisa jadi bentuk pengabaian.
“Mas, nyari siapa?”
Suara itu membuyarkan lamunanku.
Seorang bapak paruh baya, kaos lusuh, topi pantai, wajahnya terbakar matahari. Aku mengenalnya sekilas. Penjaga parkiran. Atau mungkin nelayan. Di tempat seperti ini, semua orang seperti punya banyak peran.
“Teman saya, Pak. Perempuan. Kaos putih,” jawabku cepat, terlalu cepat.
Bapak itu mengernyit.
“Pagi tadi ada mbak-mbak lewat sini. Sendirian. Jalannya cepet. Mukanya… ya kayak orang habis mutusin sesuatu.”
Dadaku mengencang.
“Ke mana, Pak?”
“Ke arah jalur atas. Bukan ke pantai. Ke hutan.”
Hutan.
Kata itu menggantung lama di kepalaku.
Aku mengangguk, mengucap terima kasih, lalu berdiri. Kakiku melangkah tanpa rencana yang jelas. Hanya satu tujuan: mengikuti kemungkinan.
Setiap langkah di jalur tanah itu terasa seperti membuka ulang percakapan yang tidak selesai. Aku mulai menyadari sesuatu yang selama ini kutepis:
dia tidak pernah benar-benar pergi tiba-tiba.
Akulah yang terlalu sibuk merasa “baik-baik saja”, sampai lupa memastikan orang di sampingku juga demikian.
Di sebuah tikungan kecil, aku melihat sesuatu di tanah.
Sehelai kain.
Putih.
Bukan bajunya. Hanya sobekan kecil. Tapi cukup membuat lututku melemas.
Aku memungutnya pelan, seperti memungut kesalahan sendiri.
Di titik itu aku sadar:
mencari dia bukan lagi soal menemukan orang,
tapi tentang menghadapi diriku yang selama ini memilih tidak bertanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi,
aku berdoa—bukan agar dia kembali,
tapi agar aku diberi kesempatan untuk mendengar,
jika nanti kami bertemu lagi.
Aku melanjutkan langkah ke dalam hutan,
tanpa tahu apakah jawabannya ada di depan,
atau justru ada di dalam diriku sendiri.
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.