Monday, December 22, 2025

Cerbung Episode 2 — Kami yang Pernah Menyebut Diri Pecinta Alam

 

Langkahku semakin masuk ke tubuh hutan. Jalur mulai menyempit, pohon-pohon berdiri rapat seolah saling berbisik, dan di sanalah ingatanku kembali melompat—jauh ke masa ketika aku belum seberani ini berjalan sendirian dengan pikiranku sendiri.

Kami dulu datang dengan ramai. Terlalu ramai, bahkan. Nama-nama itu masih jelas berputar di kepala, meski sebagian wajahnya kini mulai pudar. Ada yang keras tertawa, ada yang pendiam namun selalu siap menolong, ada pula yang sok paling kuat tapi paling dulu mengeluh ketika tanjakan tak kunjung berakhir. Kami berbeda, tapi saat itu perbedaan terasa sederhana. Semua dilebur oleh satu kalimat sakral yang kami ucapkan dengan dada membusung: kami pecinta alam.

Aku tersenyum lagi, kali ini lebih getir.

Kami menyebut diri pecinta alam bahkan sebelum benar-benar mengenal alam itu sendiri. Sebelum memahami bahwa mencintai bukan hanya soal datang, memotret, lalu pulang membawa cerita. Bahwa cinta juga berarti menahan diri, menjaga, dan terkadang mengalah. Dulu, kalimat-kalimat itu sering kami dengar dari para senior—di basecamp yang pengap, di sela-sela kopi pahit dan rokok yang menyala tanpa henti. Kami mengangguk, mencatat, mengiyakan. Tapi entah berapa persen yang benar-benar meresap.

Aku masih ingat perkenalan pertama kami. Canggung, kaku, tapi penuh rasa ingin tahu. Duduk melingkar, menyebut nama satu per satu, asal kampus, alasan ikut mendaki. Alasan-alasan yang terdengar klise namun jujur: ingin mengenal alam, mencari keluarga baru, melatih mental, atau sekadar ikut-ikutan. Tak ada yang salah. Semua alasan punya tempatnya masing-masing.

Yang menarik, dari semua alasan itu, selalu ada satu benang merah: kebersamaan.

Kami percaya kebersamaan adalah jawaban atas segalanya. Bahwa selama kami bersama, alam akan ramah. Bahwa selama kami saling menjaga, tidak akan ada yang benar-benar tersesat. Keyakinan itu indah, tapi juga naif. Aku baru menyadarinya bertahun-tahun kemudian.

Langkah kakiku melambat. Di sisi jalur, batang pohon besar rebah, ditumbuhi lumut tebal. Pemandangan sederhana, tapi mengingatkanku pada diskusi panjang yang dulu sering berujung tanpa kesimpulan. Tentang apa arti mapala, tentang perbedaan pecinta dan penikmat, tentang etika dan tanggung jawab. Kami berdebat dengan semangat, seolah esok dunia akan berubah oleh pendapat kami malam itu.

Padahal yang berubah perlahan adalah kami sendiri.

Aku ingat satu malam, ketika hujan turun tanpa aba-aba. Tenda bocor, logistik berantakan, dan beberapa dari kami mulai menggerutu. Di situlah wajah-wajah asli muncul. Ada yang tetap tertawa, ada yang diam menahan kesal, ada yang menyalahkan keadaan. Aku sendiri? Aku lupa. Mungkin aku berada di tengah-tengah, berusaha terlihat kuat sambil diam-diam bertanya: benarkah ini yang kucari?

Kini, di jalur ini, pertanyaan itu datang lagi. Lebih pelan, tapi lebih tajam.

Aku menyadari bahwa kami pernah berada di titik yang sama: sama-sama belum tahu apa-apa, sama-sama ingin disebut sesuatu yang terdengar mulia. Pecinta alam. Sebuah sebutan yang terasa hangat di mulut, namun berat di pundak. Waktu telah memisahkan kami ke jalan masing-masing. Ada yang tetap bertahan, ada yang memilih pulang, ada pula yang tersesat dalam definisinya sendiri.

Aku tidak tahu aku termasuk yang mana.

Angin kembali berembus, menggoyangkan daun-daun muda. Aku menatap ke depan, jalur masih panjang. Di belakangku, masa lalu berjalan pelan, tidak mengejar, hanya menemani. Aku tidak menyesali apa yang pernah kami sebut dan yakini. Tanpa masa itu, aku takkan sampai pada kesadaran hari ini.

Mungkin kami tidak sepenuhnya salah. Kami hanya sedang belajar menyebut cinta dengan cara kami yang paling awal—cara yang belum matang.

Aku melangkah lagi, membawa serta kenangan tentang kami yang pernah dengan lantang menyebut diri pecinta alam. Kini, aku memilih berjalan sambil mendengarkan. Karena mungkin, mencintai alam dimulai dari kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita belum sepenuhnya mengerti.

sketsa foto dihasilkan dengan AI

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.