Wednesday, December 24, 2025

Cerpen : Cintaku Tertinggal di Desa Wisata Kandri

Aku, Damar—flanel kotak-kotak biru yang selalu melekat di badan, tas punggung setia di punggung, dan langkah yang lebih sering akrab dengan tanah daripada lantai kota—menyusuri jalan batu di Desa Wisata Kandri sore itu. Angin membawa aroma sawah basah, suara sungai kecil berkejaran dengan tawa anak-anak. Kandri selalu punya cara membuat siapa pun ingin tinggal lebih lama.

Ayuk berjalan di sampingku. Jaket gunung pink-nya kontras dengan hijau desa. Rambut panjangnya diikat sederhana, kulit sawo matang itu memantulkan cahaya senja. Ia tampak tenang, keibuan, seperti biasa—tenang yang sering membuatku lupa bertanya lebih jauh.

“Tempat ini enak ya, Dam,” katanya sambil menatap rumah-rumah joglo. “Hangat. Manusiawi.”

Aku mengangguk. “Kayak kamu.”

Ia tersenyum kecil, lalu tertawa menutupinya. Kami duduk di tepi sungai, kaki menggantung, air mengalir pelan seolah tak ingin mengganggu. Aku bercerita tentang rencana pendakian berikutnya, tentang jalur yang ingin kutapaki. Ayuk mendengarkan—selalu mendengarkan.

“Yuk,” kataku akhirnya, suara sedikit bergetar. “Kalau suatu hari aku berhenti mendaki, kamu mau nemenin aku tinggal di tempat kayak gini?”

Ayuk terdiam. Lama. Angin seperti menahan napas.

“Damar,” ucapnya pelan, “kamu selalu bertanya soal masa depan dengan peta gunung. Aku… bertanya dengan kalender.”

Aku menoleh. “Maksudmu?”

Ia menatap aliran air. “Aku dapat penempatan PPL. Tetap. Di Kandri.”

Dadaku berdegup. “Itu… kabar baik.”

“Iya,” katanya tersenyum. “Tapi bukan kabar lengkap.”

Aku menunggu. Senja makin merunduk.

“Aku akan menikah,” katanya lirih. “Dengan pilihan keluarga. Aku menerimanya. Karena kadang mencintai berarti belajar merelakan.”

Kata-kata itu jatuh satu per satu, seperti batu ke sungai. Aku tertawa kecil—tawa yang salah tempat. “Terus aku ini apa, Yuk?”

Ia menoleh, mata berkaca. “Kamu adalah perjalanan yang mengajarkanku berani bermimpi. Tapi rumah… aku menemukannya di sini.”

Aku berdiri. Flanel biru terasa berat. Tas punggungku seakan memanggil jalan pulang. “Jadi… Kandri menyimpan cintaku?”

Ayuk berdiri juga. Ia mendekat, memelukku—lama, sunyi, jujur. “Bukan cintamu yang tertinggal,” bisiknya. “Keberanianmu.”

Kami berpisah tanpa janji. Aku melangkah pergi, melewati joglo, melewati senyum-senyum desa. Di tikungan terakhir, aku menoleh. Ayuk berdiri di sana, jaket pink-nya menyala di senja.

Aku paham sekarang: cintaku tak patah—ia tinggal. Di Desa Wisata Kandri, menjadi bagian dari aliran yang terus berjalan, mengajarkanku satu hal paling berat dari semua pendakian—turun dengan ikhlas.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.