Sunday, December 21, 2025

Membuat Rencana Pendakian Sambil Kulineran di kampung Jawi

Alvin & Kasih

Alvin selalu mudah dikenali. Tubuh atletis, wajah ganteng yang bersahaja, kemeja flanel kotak-kotak yang tak pernah absen, topi outdoor meneduhkan mata, dan tas punggung Eiger yang menemaninya ke mana pun pergi—ke kampus, ke pasar Johar, bahkan ke mimpi-mimpi yang ia simpan rapat. Ia pendaki gunung, dan hidupnya adalah tanjakan yang tak selalu ramah.

Kasih adalah puncak yang paling ia rindukan. Gadis muda yang sangat—sangat—cantik, pendaki gunung dengan gaya anak gunung sejati. Senyumnya hangat, matanya jernih. Namun cinta mereka berdiri di antara dua dunia yang berjarak: perbedaan kasta. Kasih adalah anak pengusaha terkenal dengan kekayaan miliaran; Alvin anak rantau yang kuliah sambil bekerja serabutan, menjadi kuli panggung di Pasar Johar demi bertahan.

Tempat mereka bertemu dunia adalah Kuliner Kampung Jawi, Gunungpati. Murah, syahdu, romantis. Di sana, mereka bisa duduk dari buka sampai tutup, berbagi cerita, menyimpan harap.

“Aku selalu kagum sama kamu,” kata Kasih suatu malam, jemarinya melingkar di gelas wedang.
“Kagum kenapa?”
“Kamu cerdas. Kamu berani. Kamu tetap sopan meski hidupmu keras.”

Alvin tersenyum, menunduk sebentar.
“Kalau aku kagum sama kamu karena kamu memanusiakan manusia,” katanya pelan. “Kamu hangat ke siapa pun.”

Malam Sabtu itu, rencana pendakian mereka mengambang di udara seperti kabut. Mereka mencoba menyusun strategi pamit pada orang tua Kasih—cerita ini, alasan itu—namun selalu mentok. Tak ada celah yang aman.

“Kalau aku bilang ke Mama mau nginep di rumah teman…”
“Nanti dicek,” potong Alvin.
“Kalau ada acara kampus?”
“Sudah terlalu sering,” Alvin menghela napas.

Keheningan jatuh. Lampu-lampu Kampung Jawi berpendar lembut, seolah mengerti.

“Aku capek,” suara Kasih bergetar. “Maaf ya, Vin… belum bisa.”

Air mata jatuh tanpa permisi. Alvin merengkuhnya, pelukan yang tak berisik tapi kokoh.
“Jangan minta maaf,” bisiknya. “Kita cuma sedang menunggu waktu.”

Kasih menggeleng pelan di dadanya. “Aku pengen mendaki sama kamu.”

“Aku juga.”

Saat mereka berpisah dari pelukan, jarak itu menipis sendiri. Tatapan bertaut. Tak ada rencana, tak ada niat—hanya kejujuran yang terlalu dekat untuk dihindari. Ciuman itu datang lembut, ragu, indah. Kasih tersenyum malu setelahnya, pipinya merona, matanya berkaca.

“Maaf,” katanya kecil.
“Jangan,” Alvin tersenyum. “Ini bukan salah.”

Malam menutup kisah itu dengan sunyi yang manis. Di antara flanel dan dunia yang berbeda, mereka belajar: cinta tak selalu mendaki hari ini—kadang ia bertahan, setia, menunggu cuaca baik.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.