Alvin & Kasih
Alvin selalu mudah dikenali. Tubuh atletis, wajah ganteng yang bersahaja, kemeja flanel kotak-kotak yang tak pernah absen, topi outdoor meneduhkan mata, dan tas punggung Eiger yang menemaninya ke mana pun pergi—ke kampus, ke pasar Johar, bahkan ke mimpi-mimpi yang ia simpan rapat. Ia pendaki gunung, dan hidupnya adalah tanjakan yang tak selalu ramah.
Kasih adalah puncak yang paling ia rindukan. Gadis muda yang sangat—sangat—cantik, pendaki gunung dengan gaya anak gunung sejati. Senyumnya hangat, matanya jernih. Namun cinta mereka berdiri di antara dua dunia yang berjarak: perbedaan kasta. Kasih adalah anak pengusaha terkenal dengan kekayaan miliaran; Alvin anak rantau yang kuliah sambil bekerja serabutan, menjadi kuli panggung di Pasar Johar demi bertahan.
Tempat mereka bertemu dunia adalah Kuliner Kampung Jawi, Gunungpati. Murah, syahdu, romantis. Di sana, mereka bisa duduk dari buka sampai tutup, berbagi cerita, menyimpan harap.
Malam Sabtu itu, rencana pendakian mereka mengambang di udara seperti kabut. Mereka mencoba menyusun strategi pamit pada orang tua Kasih—cerita ini, alasan itu—namun selalu mentok. Tak ada celah yang aman.
Keheningan jatuh. Lampu-lampu Kampung Jawi berpendar lembut, seolah mengerti.
“Aku capek,” suara Kasih bergetar. “Maaf ya, Vin… belum bisa.”
Kasih menggeleng pelan di dadanya. “Aku pengen mendaki sama kamu.”
“Aku juga.”
Saat mereka berpisah dari pelukan, jarak itu menipis sendiri. Tatapan bertaut. Tak ada rencana, tak ada niat—hanya kejujuran yang terlalu dekat untuk dihindari. Ciuman itu datang lembut, ragu, indah. Kasih tersenyum malu setelahnya, pipinya merona, matanya berkaca.
Malam menutup kisah itu dengan sunyi yang manis. Di antara flanel dan dunia yang berbeda, mereka belajar: cinta tak selalu mendaki hari ini—kadang ia bertahan, setia, menunggu cuaca baik.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.