Aku tak sempat melihat bayangannya berkelebat. Tidak ada teriakan, tidak ada suara jatuh, tidak ada jejak yang bisa kuikuti. Semua begitu cepat—terlalu cepat untuk sebuah penyesalan yang baru kusadari datangnya belakangan.
Debur ombak Pantai Siung seakan menertawakan kebodohanku. Ia menghantam karang dengan irama yang kejam, seperti mengejek ketidakmampuanku menjaga seseorang yang semestinya tak kutinggalkan sendirian di tepi jurang itu. Penyesalan, pada akhirnya, memang selalu datang sebagai barang sisa—tak pernah berguna.
Aku memejamkan mata, mencoba menata ulang ingatan.
Semalam, kami duduk di depan parkiran Mbah Wasto. Hanya berdua. Hujan turun deras, mengguyur bumi tanpa kompromi, tapi kami tidak peduli. Kami berbincang ngalor-ngidul, dari hal remeh sampai perkara yang terlalu dalam untuk disebutkan. Tentang lelah hidup, tentang rindu pulang ke alam, tentang diam yang lebih jujur daripada kata-kata.
Hujan tak memutus percakapan. Malam berjalan tanpa terasa. Kata-kata mengalir seperti sungai yang lupa muaranya. Aku bahkan tak ingat kapan pagi mulai menyelinap di sela-sela gelap, karena suara kami masih saja menyambung—seolah jika berhenti berbicara, sesuatu akan runtuh.
Status, semalam, kami sepakat untuk menyingkirkannya. Tak penting, katanya. Apalagi setelah malam di hutan beberapa hari lalu—malam panjang yang kami lewati tanpa kejadian apa pun. Semuanya baik-baik saja. Setidaknya itu yang kami yakini.
Namun pagi ini membantah semuanya.
Pagi di tepi jurang Pantai Siung membuatku sadar: kami tidak baik-baik saja. Ada sesuatu yang dipendam gadis berkaos putih itu. Sesuatu yang tak ia ucapkan, tapi kini berteriak lewat kehilangannya.
Matahari semakin tinggi. Panas kian menyengat. Aku berlari menyusuri tepian, memanggil namanya berulang kali—namun suaraku kalah oleh angin laut. Kekhawatiran menumpuk di dada: apakah ia terjatuh ke jurang? Apakah seseorang membawanya pergi? Ataukah ia tersesat, dikejar kera ekor panjang yang berkeliaran di sekitar tebing?
Tebung Pantai Siung
Aku mencari ke setiap sudut yang bisa kujangkau. Setiap langkah terasa sia-sia, namun berhenti terasa lebih kejam.
Aku belum menemukannya.
Yang kutemukan hanya kaos putih itu—terbayang di kepalaku, berdiri di tepi jurang, dengan mata yang mungkin menyimpan cerita yang tak sempat kuceritakan ulang.


No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.