Di antara gemerisik angin pagi di padepokan kecil di pinggir kota, Damar selalu menemukan ketenangan. Lelaki itu telah lama mengabdikan diri sebagai pelatih silat—bukan sekadar mengajarkan gerak, tetapi menanamkan adab dan rasa. Namun satu hal yang tak ia sangka, bahwa sebuah rasa justru menamparnya kembali.
Retno. Muridnya yang datang dua tahun lalu dengan langkah ringan, wajah manis yang selalu tampak sejuk, dan gerak silat yang rapi seperti sudah sejak kecil ditempa angin dan tanah. Setiap kali Retno melangkah, Damar selalu merasa seperti melihat embun yang jatuh di ujung daun; bening, halus, tapi mampu memantulkan cahaya.
Mulanya Damar menahan diri. Usianya jauh lebih matang, dan ia telah berkeluarga. Tapi hati manusia kadang seperti daun kering yang tiba-tiba terseret angin: tak bisa memilih ke mana harus bergerak. Ia mencoba menjauh, namun justru di situlah ia semakin sering menoleh.
Retno pun tak buta. Ia merasakan sorot mata gurunya yang berubah—bukan sembunyi, tapi tak lantang. Ia pun menyimpan rasa yang tak berani ia beri nama. Hingga waktu yang memanjang dua tahun itu akhirnya memeras keberanian keduanya. Pada suatu sore setelah latihan panjang, Retno berdiri menunduk—entah menutupi lelah atau menahan gemuruh.
“Mas… jika perasaan itu memang ada, aku tak sanggup pura-pura tidak melihatnya,” ucap Retno lirih.
Damar terdiam. Ada hujan yang jatuh tanpa suara dalam dadanya. “Retno… hidupku bukan halaman kosong. Aku takut kita menanam sesuatu di tanah yang salah.”
Retno mengangguk, namun matanya basah. “Tapi hati manusia… kadang tumbuh di tempat yang tidak kita duga.”
Dan pada hari itu, untuk pertama kalinya, Damar menggenggam tangan Retno. Genggaman yang tak boleh dilihat siapa pun. Genggaman yang akan mereka bawa dalam perjalanan panjang penuh diam dan sembunyi.
Tahun berganti. Malam terakhir sebelum pergantian tahun, mereka memutuskan pergi ke Gunung Sumbing. Bukan sebagai guru dan murid. Bukan pula sebagai dua manusia yang mencari pembenaran. Mereka hanya ingin menjadi dua hati yang sedang mencari ruang bernapas.
Angin di punggungan Sumbing malam itu menggigit. Kabut turun pelan seperti tirai tipis. Api kecil yang mereka buat tak benar-benar menghangatkan. Damar menatap Retno yang duduk memeluk lutut, wajahnya memerah oleh dingin.
“Dingin banget, Mas,” bisiknya.
Tanpa banyak kata, Damar merentangkan tangannya. Retno masuk ke dalam pelukan itu—perlahan, namun pasti. Di sana, di puncak dunia kecil milik mereka, tubuh mereka bertaut bukan karena nafsu, tetapi karena dingin yang begitu menyelimuti dan rindu yang sudah terlalu lama bersembunyi.
Angin melolong, tapi dada mereka terasa tenang.
Jam-jam itu berjalan pelan. Retno memejamkan mata, kepalanya bersandar di bahu Damar. “Andai waktu bisa berhenti, Mas… aku ingin berhenti di sini saja.”
Damar menatap gelap yang tak sepenuhnya gelap. Hatinya penuh tanya. “Retno… aku takut. Takut pada apa yang kita jalani.”
“Tapi aku bahagia,” jawab Retno, suara serak oleh udara tipis.
Pelukan itu menguat. Dingin tak lagi menusuk. Yang tersisa hanya hangat yang sulit dijelaskan. Saling merapat, saling menjaga, seolah dunia luar tak pernah ada. Di sana cinta mereka mengikat semakin erat—bukan karena benar, bukan pula karena salah—tapi karena manusia kadang butuh tempat untuk meletakkan hatinya meski hanya sesaat.
Ketika kembang api di kejauhan meletup menyambut tahun baru, Damar dan Retno masih saling memeluk. Tidak merayakan, tidak bersorak. Mereka hanya diam—karena banyak hal dalam hidup lebih baik disimpan di antara dua dada yang saling bersandar.
Dan Gunung Sumbing malam itu menjadi saksi: bahwa cinta tak selalu datang pada saat yang tepat, tapi ia tetap datang. Membawa bahagia, membawa luka, membawa keraguan.
Namun pada pelukan panjang itu, mereka tak memikirkan apa pun selain satu hal:
Bahwa untuk satu malam, mereka diperbolehkan menjadi dua hati yang saling membutuhkan.
Noted : Sketsa digambar dengan AI

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.