Tuesday, December 23, 2025

Kenangan Merbabu ; Ungkapan Rasa diatas Bus Magelang Jogja

Bagian 1

Pendakian Massal Merbabu: Bibit Rasa Mulai Bersemi

Pendakian massal itu bermula dari sebuah pengumuman sederhana di papan kampus. Gunung Merbabu, dengan jalur panjang dan sabana luasnya, akan menjadi saksi ratusan langkah anak muda yang haus petualangan. Aku mendaftar tanpa banyak pikir, hanya ingin menguji kaki dan paru-paru. Tak pernah terlintas bahwa di sanalah hatiku ikut mendaki.

Di tengah rombongan yang riuh oleh tawa dan teriakan semangat, aku melihatmu. Kemeja flanelmu tampak biasa saja, tapi caramu tersenyum pada semua orang membuat suasana menjadi ringan. Kita tidak langsung berjalan berdampingan, hanya sesekali bertukar pandang saat berhenti mengambil napas.

Merbabu mengajarkan kami untuk sabar. Jalurnya panjang, kadang landai, kadang menanjak tanpa ampun. Saat kakimu terpeleset di tanah berdebu, reflek aku mengulurkan tangan. “Terima kasih,” katamu singkat, tapi sejak itu langkah kita seolah berirama.

Malam turun di pos peristirahatan. Api unggun kecil menyala, kopi dibagi dalam gelas seadanya. Kita duduk berdekatan, berbagi cerita ringan—tentang rumah, tentang rencana hidup yang masih samar. Angin dingin Merbabu berhembus, tapi entah mengapa dadaku terasa hangat. Tanpa kusadari, bibit rasa itu mulai bersemi, pelan namun pasti.

Bagian 2

Bus Magelang–Jogja: Ku Ungkap Rasa Padamu

Pendakian berakhir, tapi cerita tidak ikut turun bersama kami. Dari Magelang menuju Jogja, kami duduk di bangku bus yang sama—sebuah kebetulan yang terasa terlalu manis untuk disebut kebetulan.

Bus melaju perlahan, melewati sawah dan desa-desa yang seolah tak peduli pada kegelisahanku. Di dalam, suara mesin bercampur dengan obrolan penumpang lain, namun pikiranku hanya tertuju padamu. Tanganku dingin, bukan karena AC bus, melainkan oleh keberanian yang sedang kupaksa tumbuh.

Kita membicarakan hal-hal kecil lagi—tentang capeknya kaki, tentang foto-foto yang belum dicetak, tentang Merbabu yang rasanya terlalu cepat ditinggalkan. Lalu ada jeda. Hening yang panjang, cukup untuk membuat jantung berdetak terlalu keras.

“Ada yang ingin aku sampaikan,” kataku akhirnya. Kau menoleh, menungguku melanjutkan. Kata-kata itu keluar sederhana, tanpa puisi, tanpa janji besar—hanya kejujuran tentang rasa yang tumbuh sejak di jalur pendakian.

Kau tersenyum, tidak terkejut, seolah telah membaca semuanya dari caraku berjalan di sampingmu. Bus terus melaju, tapi sejak saat itu, dunia terasa berhenti sejenak. Aku tak tahu ke mana arah cerita ini, tapi aku tahu satu hal: aku tak lagi menyimpan rasa sendirian.

Bagian 3

Terlanjut Mengungkap Rasa: Tak Pernah Apel Malming

Mengungkap rasa ternyata bukan akhir, melainkan awal dari sesuatu yang tak biasa. Kita tidak pernah benar-benar menjadi pasangan seperti di cerita kebanyakan orang. Tak ada apel malam minggu, tak ada janji bertemu rutin di hari libur.

Consideration always came first. Kesibukan, jarak, dan waktu yang tak selalu berpihak membuat hubungan kita berjalan apa adanya. Kita lebih sering berbagi kabar singkat, cerita sederhana, dan kenangan lama yang terus kita rawat.

Aneh memang—tanpa malam minggu, tanpa genggaman tangan di keramaian kota—namun rasa itu tidak pudar. Justru Merbabu menjadi titik pulang dalam ingatan. Setiap kali hidup terasa berat, aku kembali ke sana, pada sabana luas, api unggun kecil, dan bangku bus yang menjadi saksi kejujuran.

Kini, waktu telah berjalan jauh. Rambut mungkin mulai beruban, langkah tak lagi sering mendaki. Tapi “Kenangan Merbabu” tetap utuh—bukan sekadar cerita cinta, melainkan tentang keberanian mengakui rasa, meski akhirnya tak selalu berakhir seperti yang dibayangkan.

Dan mungkin, justru di sanalah keindahannya.




No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.