Wednesday, December 24, 2025

Cerpen : Lima Langkah Menuju Bahagia

 


Kami berlima berdiri di kaki Gunung Slamet saat pagi masih malu-malu. Kabut tipis menggantung, bau tanah basah menenangkan. Aku—Damar—berdiri di tengah, flanel kotak-kotak merah menempel rapi, tas punggung setia menahan beban cerita. Di sekelilingku ada empat perempuan dengan gaya anak gunung yang selaras, langkahnya ringan, matanya menyimpan harap masing-masing.

Ada Ayuk, tenang dan keibuan, tatapannya selalu lebih dulu menenangkan sebelum bertanya. Nara, ceria dan spontan, tawanya paling cepat pecah. Lintang, pendiam namun tajam, selalu berjalan sedikit di belakang, mengamati. Dan Saka, tangguh, topi hijaunya miring, langkahnya paling pasti di tanjakan.

“Target hari ini bukan puncak,” kataku sambil tersenyum.
“Targetnya kebersamaan,” sahut Nara, disambut anggukan yang lain.

Jalur awal ramah. Kami bercanda, saling tukar bekal, tertawa karena hal-hal kecil. Tapi gunung selalu jujur—ia menguji bukan hanya kaki, melainkan perasaan. Di tanjakan curam setelah pos pertama, dinamika itu mulai terasa. Ayuk merapikan tali sepatuku tanpa diminta. Saka menawariku air dengan tatap serius. Nara menggandeng lenganku saat batu licin. Lintang hanya berkata, “Pelan,” tapi suaranya membuatku berhenti.

Aku bingung—dan Slamet seolah menikmati kebingungan itu.

Di bawah pohon besar, kami istirahat. Angin dingin datang tiba-tiba.
“Dam,” ujar Ayuk pelan, “kalau lelah, bilang.”
“Kalau ragu, bilang,” tambah Lintang, menatap lurus.
“Kalau jatuh, aku tangkap,” kata Saka singkat.
“Kalau senang, ketawa dong!” Nara menutup dengan tawa.

Aku tertawa—tapi dada bergetar. Cinta berempat ini bukan tentang memilih siapa paling dekat, melainkan memahami apa yang paling benar.

Menjelang senja, kami tiba di sabana kecil. Langit menguning. Aku berdiri, menarik napas. “Aku nggak bisa memberi harap yang berbeda-beda,” kataku jujur. “Aku hanya bisa memberi kejujuran.”

Sunyi. Lalu Ayuk tersenyum, hangat. “Bahagia itu bukan selalu memiliki.”
Saka mengangguk. “Bahagia itu saling menguatkan.”
Lintang berkata pelan, “Bahagia itu berani melepaskan.”
Nara menepuk pundakku. “Bahagia itu sampai bareng.”

Malam itu, di bawah langit bertabur bintang, kami berpelukan—bukan sebagai yang kalah atau menang, tapi sebagai lima sekawan yang memilih utuh. Pagi esoknya, kami melangkah ke puncak. Di sana, di atas Slamet, kami foto bersama—senyum tanpa beban.

Cinta yang rumit itu berakhir bahagia karena kami memilih satu hal yang sama: menjaga langkah, menjaga hati, dan pulang sebagai keluarga.

Cerpen : Cintaku Tertinggal di Desa Wisata Kandri

Aku, Damar—flanel kotak-kotak biru yang selalu melekat di badan, tas punggung setia di punggung, dan langkah yang lebih sering akrab dengan tanah daripada lantai kota—menyusuri jalan batu di Desa Wisata Kandri sore itu. Angin membawa aroma sawah basah, suara sungai kecil berkejaran dengan tawa anak-anak. Kandri selalu punya cara membuat siapa pun ingin tinggal lebih lama.

Ayuk berjalan di sampingku. Jaket gunung pink-nya kontras dengan hijau desa. Rambut panjangnya diikat sederhana, kulit sawo matang itu memantulkan cahaya senja. Ia tampak tenang, keibuan, seperti biasa—tenang yang sering membuatku lupa bertanya lebih jauh.

“Tempat ini enak ya, Dam,” katanya sambil menatap rumah-rumah joglo. “Hangat. Manusiawi.”

Aku mengangguk. “Kayak kamu.”

Ia tersenyum kecil, lalu tertawa menutupinya. Kami duduk di tepi sungai, kaki menggantung, air mengalir pelan seolah tak ingin mengganggu. Aku bercerita tentang rencana pendakian berikutnya, tentang jalur yang ingin kutapaki. Ayuk mendengarkan—selalu mendengarkan.

“Yuk,” kataku akhirnya, suara sedikit bergetar. “Kalau suatu hari aku berhenti mendaki, kamu mau nemenin aku tinggal di tempat kayak gini?”

Ayuk terdiam. Lama. Angin seperti menahan napas.

“Damar,” ucapnya pelan, “kamu selalu bertanya soal masa depan dengan peta gunung. Aku… bertanya dengan kalender.”

Aku menoleh. “Maksudmu?”

Ia menatap aliran air. “Aku dapat penempatan PPL. Tetap. Di Kandri.”

Dadaku berdegup. “Itu… kabar baik.”

“Iya,” katanya tersenyum. “Tapi bukan kabar lengkap.”

Aku menunggu. Senja makin merunduk.

“Aku akan menikah,” katanya lirih. “Dengan pilihan keluarga. Aku menerimanya. Karena kadang mencintai berarti belajar merelakan.”

Kata-kata itu jatuh satu per satu, seperti batu ke sungai. Aku tertawa kecil—tawa yang salah tempat. “Terus aku ini apa, Yuk?”

Ia menoleh, mata berkaca. “Kamu adalah perjalanan yang mengajarkanku berani bermimpi. Tapi rumah… aku menemukannya di sini.”

Aku berdiri. Flanel biru terasa berat. Tas punggungku seakan memanggil jalan pulang. “Jadi… Kandri menyimpan cintaku?”

Ayuk berdiri juga. Ia mendekat, memelukku—lama, sunyi, jujur. “Bukan cintamu yang tertinggal,” bisiknya. “Keberanianmu.”

Kami berpisah tanpa janji. Aku melangkah pergi, melewati joglo, melewati senyum-senyum desa. Di tikungan terakhir, aku menoleh. Ayuk berdiri di sana, jaket pink-nya menyala di senja.

Aku paham sekarang: cintaku tak patah—ia tinggal. Di Desa Wisata Kandri, menjadi bagian dari aliran yang terus berjalan, mengajarkanku satu hal paling berat dari semua pendakian—turun dengan ikhlas.

Cerpen : Kisah Romantis di Lereng Sumbing

 


Kabut pagi masih setia menggantung di lereng Sumbing ketika aku—Damar—melangkah perlahan di jalur setapak yang basah oleh embun. Flanel kotak-kotak biru yang kupakai terasa hangat di tubuh, sehangat rindu yang entah sejak kapan berdiam di dada. Rambutku rapi, belah kiri, seperti kebiasaan lama sebelum mendaki. Tas punggung biru menempel setia di punggung, sementara celana lapangan hitam Eiger sudah akrab dengan lumpur dan batu.

Gunung selalu jujur padaku. Ia tak pernah bertanya siapa aku di bawah sana. Ia hanya meminta napas, langkah, dan kejujuran pada diri sendiri.

Di tikungan kecil yang menghadap lembah, aku melihatnya.

Ayuk.

Ia berdiri dengan jaket gunung pink, rambut panjangnya tergerai sederhana, kulit sawo matang memantulkan cahaya pagi, dan senyum itu—senyum yang dulu sering menguatkanku di masa-masa kuliah. Cantik, keibuan, tenang. Seolah lereng ini memang diciptakan untuk menyambutnya.

“Masih pakai flanel kotak-kotak juga, Dam?” katanya sambil tersenyum.

Aku terkekeh kecil. “Dan kamu masih suka warna pink. Gunung nggak pernah protes, kan?”

Kami berjalan berdampingan. Langkah kami seirama, kadang terdiam, kadang diisi obrolan ringan—tentang jalan hidup yang berkelok, tentang kelas-kelas yang ia ajar sebagai mahasiswi keguruan, tentang gunung-gunung yang kucumbu dengan peluh. Angin sesekali menyibak kabut, memperlihatkan jurang hijau yang dalam, membuat kami berhenti dan menarik napas panjang.

Di sebuah tanah datar, kami duduk. Lereng Sumbing terbentang, luas dan sunyi. Sunyi yang jujur.

“Ayuk,” kataku pelan, menatap ke depan, bukan ke arahnya. “Ada hal yang lama kupendam. Mungkin gunung ini tempat yang tepat.”

Ia menoleh. Diam.

“Aku suka caramu mendengarkan,” lanjutku. “Caramu hadir tanpa menuntut. Seperti jalur pendakian—tak memaksa, tapi mengantar.”

Ayuk tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Aku juga, Dam. Kamu selalu pulang ke gunung… dan entah kenapa, aku ingin jadi bagian dari perjalanan itu.”

Tak ada tepuk tangan. Tak ada sorak. Hanya angin dan kabut yang menjadi saksi.

Aku berdiri, mengulurkan tangan. Ia menyambut. Lalu, tanpa kata, kami berpelukan. Lama. Sangat lama. Diam yang hangat. Peluk mesra yang menenangkan, seolah seluruh rindu menemukan rumahnya. Lereng Sumbing menyimpan kami dalam sunyi, dan waktu pun memilih berhenti sejenak—menghormati dua hati yang akhirnya berani jujur.

Tuesday, December 23, 2025

Kenangan Merbabu ; Ungkapan Rasa diatas Bus Magelang Jogja

Bagian 1

Pendakian Massal Merbabu: Bibit Rasa Mulai Bersemi

Pendakian massal itu bermula dari sebuah pengumuman sederhana di papan kampus. Gunung Merbabu, dengan jalur panjang dan sabana luasnya, akan menjadi saksi ratusan langkah anak muda yang haus petualangan. Aku mendaftar tanpa banyak pikir, hanya ingin menguji kaki dan paru-paru. Tak pernah terlintas bahwa di sanalah hatiku ikut mendaki.

Di tengah rombongan yang riuh oleh tawa dan teriakan semangat, aku melihatmu. Kemeja flanelmu tampak biasa saja, tapi caramu tersenyum pada semua orang membuat suasana menjadi ringan. Kita tidak langsung berjalan berdampingan, hanya sesekali bertukar pandang saat berhenti mengambil napas.

Merbabu mengajarkan kami untuk sabar. Jalurnya panjang, kadang landai, kadang menanjak tanpa ampun. Saat kakimu terpeleset di tanah berdebu, reflek aku mengulurkan tangan. “Terima kasih,” katamu singkat, tapi sejak itu langkah kita seolah berirama.

Malam turun di pos peristirahatan. Api unggun kecil menyala, kopi dibagi dalam gelas seadanya. Kita duduk berdekatan, berbagi cerita ringan—tentang rumah, tentang rencana hidup yang masih samar. Angin dingin Merbabu berhembus, tapi entah mengapa dadaku terasa hangat. Tanpa kusadari, bibit rasa itu mulai bersemi, pelan namun pasti.

Bagian 2

Bus Magelang–Jogja: Ku Ungkap Rasa Padamu

Pendakian berakhir, tapi cerita tidak ikut turun bersama kami. Dari Magelang menuju Jogja, kami duduk di bangku bus yang sama—sebuah kebetulan yang terasa terlalu manis untuk disebut kebetulan.

Bus melaju perlahan, melewati sawah dan desa-desa yang seolah tak peduli pada kegelisahanku. Di dalam, suara mesin bercampur dengan obrolan penumpang lain, namun pikiranku hanya tertuju padamu. Tanganku dingin, bukan karena AC bus, melainkan oleh keberanian yang sedang kupaksa tumbuh.

Kita membicarakan hal-hal kecil lagi—tentang capeknya kaki, tentang foto-foto yang belum dicetak, tentang Merbabu yang rasanya terlalu cepat ditinggalkan. Lalu ada jeda. Hening yang panjang, cukup untuk membuat jantung berdetak terlalu keras.

“Ada yang ingin aku sampaikan,” kataku akhirnya. Kau menoleh, menungguku melanjutkan. Kata-kata itu keluar sederhana, tanpa puisi, tanpa janji besar—hanya kejujuran tentang rasa yang tumbuh sejak di jalur pendakian.

Kau tersenyum, tidak terkejut, seolah telah membaca semuanya dari caraku berjalan di sampingmu. Bus terus melaju, tapi sejak saat itu, dunia terasa berhenti sejenak. Aku tak tahu ke mana arah cerita ini, tapi aku tahu satu hal: aku tak lagi menyimpan rasa sendirian.

Bagian 3

Terlanjut Mengungkap Rasa: Tak Pernah Apel Malming

Mengungkap rasa ternyata bukan akhir, melainkan awal dari sesuatu yang tak biasa. Kita tidak pernah benar-benar menjadi pasangan seperti di cerita kebanyakan orang. Tak ada apel malam minggu, tak ada janji bertemu rutin di hari libur.

Consideration always came first. Kesibukan, jarak, dan waktu yang tak selalu berpihak membuat hubungan kita berjalan apa adanya. Kita lebih sering berbagi kabar singkat, cerita sederhana, dan kenangan lama yang terus kita rawat.

Aneh memang—tanpa malam minggu, tanpa genggaman tangan di keramaian kota—namun rasa itu tidak pudar. Justru Merbabu menjadi titik pulang dalam ingatan. Setiap kali hidup terasa berat, aku kembali ke sana, pada sabana luas, api unggun kecil, dan bangku bus yang menjadi saksi kejujuran.

Kini, waktu telah berjalan jauh. Rambut mungkin mulai beruban, langkah tak lagi sering mendaki. Tapi “Kenangan Merbabu” tetap utuh—bukan sekadar cerita cinta, melainkan tentang keberanian mengakui rasa, meski akhirnya tak selalu berakhir seperti yang dibayangkan.

Dan mungkin, justru di sanalah keindahannya.




Monday, December 22, 2025

Cerbung episode 3 : Jejak yang Tidak Sengaja Kutinggalkan



Aku kembali ke tempat itu. Bukan karena yakin dia akan ada di sana, tapi karena ada bagian dari diriku yang tertinggal.

Pagi di Pantai Siung tidak pernah benar-benar ramah. Angin asin menusuk hidung, ombak menghantam karang seperti orang marah yang tak menemukan lawan bicara. Aku berdiri agak jauh dari jurang—belajar dari kebodohan kemarin—tapi mataku tetap mencari-cari, seolah gadis berkaos putih itu bisa muncul begitu saja dari balik semak, tertawa, lalu berkata:
“Kenapa wajahmu kayak orang habis kehilangan dompet?”

Tapi tidak.
Yang ada hanya sunyi, dan suara debur ombak yang seperti sengaja mempermalukanku.

Aku duduk di atas batu besar. Batu yang sama, posisi yang hampir sama. Bedanya, kali ini aku sendirian. Tidak ada obrolan ngalor-ngidul. Tidak ada hujan. Tidak ada tawa yang datang tiba-tiba lalu pergi tanpa pamit.

Tanganku merogoh saku jaket.
Kosong.
Tapi ingatan tidak.

Semalam di hutan itu kembali muncul di kepalaku. Api unggun kecil, suara serangga, dan dia—duduk bersandar pada ranselnya, menatap api tanpa benar-benar melihat apa pun. Saat itu aku mengira dia hanya lelah. Atau sedang menikmati diam. Aku tidak bertanya. Aku memilih membiarkan. Kupikir diam adalah bentuk kedewasaan.

Ternyata diam juga bisa jadi bentuk pengabaian.

“Mas, nyari siapa?”
Suara itu membuyarkan lamunanku.

Seorang bapak paruh baya, kaos lusuh, topi pantai, wajahnya terbakar matahari. Aku mengenalnya sekilas. Penjaga parkiran. Atau mungkin nelayan. Di tempat seperti ini, semua orang seperti punya banyak peran.

“Teman saya, Pak. Perempuan. Kaos putih,” jawabku cepat, terlalu cepat.

Bapak itu mengernyit.
“Pagi tadi ada mbak-mbak lewat sini. Sendirian. Jalannya cepet. Mukanya… ya kayak orang habis mutusin sesuatu.”

Dadaku mengencang.
“Ke mana, Pak?”

“Ke arah jalur atas. Bukan ke pantai. Ke hutan.”

Hutan.
Kata itu menggantung lama di kepalaku.

Aku mengangguk, mengucap terima kasih, lalu berdiri. Kakiku melangkah tanpa rencana yang jelas. Hanya satu tujuan: mengikuti kemungkinan.

Setiap langkah di jalur tanah itu terasa seperti membuka ulang percakapan yang tidak selesai. Aku mulai menyadari sesuatu yang selama ini kutepis:
dia tidak pernah benar-benar pergi tiba-tiba.
Akulah yang terlalu sibuk merasa “baik-baik saja”, sampai lupa memastikan orang di sampingku juga demikian.

Di sebuah tikungan kecil, aku melihat sesuatu di tanah.
Sehelai kain.
Putih.

Bukan bajunya. Hanya sobekan kecil. Tapi cukup membuat lututku melemas.

Aku memungutnya pelan, seperti memungut kesalahan sendiri.
Di titik itu aku sadar:
mencari dia bukan lagi soal menemukan orang,
tapi tentang menghadapi diriku yang selama ini memilih tidak bertanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi,
aku berdoa—bukan agar dia kembali,
tapi agar aku diberi kesempatan untuk mendengar,
jika nanti kami bertemu lagi.

Aku melanjutkan langkah ke dalam hutan,
tanpa tahu apakah jawabannya ada di depan,
atau justru ada di dalam diriku sendiri.


Cerbung Episode 2 — Kami yang Pernah Menyebut Diri Pecinta Alam

 

Langkahku semakin masuk ke tubuh hutan. Jalur mulai menyempit, pohon-pohon berdiri rapat seolah saling berbisik, dan di sanalah ingatanku kembali melompat—jauh ke masa ketika aku belum seberani ini berjalan sendirian dengan pikiranku sendiri.

Kami dulu datang dengan ramai. Terlalu ramai, bahkan. Nama-nama itu masih jelas berputar di kepala, meski sebagian wajahnya kini mulai pudar. Ada yang keras tertawa, ada yang pendiam namun selalu siap menolong, ada pula yang sok paling kuat tapi paling dulu mengeluh ketika tanjakan tak kunjung berakhir. Kami berbeda, tapi saat itu perbedaan terasa sederhana. Semua dilebur oleh satu kalimat sakral yang kami ucapkan dengan dada membusung: kami pecinta alam.

Aku tersenyum lagi, kali ini lebih getir.

Kami menyebut diri pecinta alam bahkan sebelum benar-benar mengenal alam itu sendiri. Sebelum memahami bahwa mencintai bukan hanya soal datang, memotret, lalu pulang membawa cerita. Bahwa cinta juga berarti menahan diri, menjaga, dan terkadang mengalah. Dulu, kalimat-kalimat itu sering kami dengar dari para senior—di basecamp yang pengap, di sela-sela kopi pahit dan rokok yang menyala tanpa henti. Kami mengangguk, mencatat, mengiyakan. Tapi entah berapa persen yang benar-benar meresap.

Aku masih ingat perkenalan pertama kami. Canggung, kaku, tapi penuh rasa ingin tahu. Duduk melingkar, menyebut nama satu per satu, asal kampus, alasan ikut mendaki. Alasan-alasan yang terdengar klise namun jujur: ingin mengenal alam, mencari keluarga baru, melatih mental, atau sekadar ikut-ikutan. Tak ada yang salah. Semua alasan punya tempatnya masing-masing.

Yang menarik, dari semua alasan itu, selalu ada satu benang merah: kebersamaan.

Kami percaya kebersamaan adalah jawaban atas segalanya. Bahwa selama kami bersama, alam akan ramah. Bahwa selama kami saling menjaga, tidak akan ada yang benar-benar tersesat. Keyakinan itu indah, tapi juga naif. Aku baru menyadarinya bertahun-tahun kemudian.

Langkah kakiku melambat. Di sisi jalur, batang pohon besar rebah, ditumbuhi lumut tebal. Pemandangan sederhana, tapi mengingatkanku pada diskusi panjang yang dulu sering berujung tanpa kesimpulan. Tentang apa arti mapala, tentang perbedaan pecinta dan penikmat, tentang etika dan tanggung jawab. Kami berdebat dengan semangat, seolah esok dunia akan berubah oleh pendapat kami malam itu.

Padahal yang berubah perlahan adalah kami sendiri.

Aku ingat satu malam, ketika hujan turun tanpa aba-aba. Tenda bocor, logistik berantakan, dan beberapa dari kami mulai menggerutu. Di situlah wajah-wajah asli muncul. Ada yang tetap tertawa, ada yang diam menahan kesal, ada yang menyalahkan keadaan. Aku sendiri? Aku lupa. Mungkin aku berada di tengah-tengah, berusaha terlihat kuat sambil diam-diam bertanya: benarkah ini yang kucari?

Kini, di jalur ini, pertanyaan itu datang lagi. Lebih pelan, tapi lebih tajam.

Aku menyadari bahwa kami pernah berada di titik yang sama: sama-sama belum tahu apa-apa, sama-sama ingin disebut sesuatu yang terdengar mulia. Pecinta alam. Sebuah sebutan yang terasa hangat di mulut, namun berat di pundak. Waktu telah memisahkan kami ke jalan masing-masing. Ada yang tetap bertahan, ada yang memilih pulang, ada pula yang tersesat dalam definisinya sendiri.

Aku tidak tahu aku termasuk yang mana.

Angin kembali berembus, menggoyangkan daun-daun muda. Aku menatap ke depan, jalur masih panjang. Di belakangku, masa lalu berjalan pelan, tidak mengejar, hanya menemani. Aku tidak menyesali apa yang pernah kami sebut dan yakini. Tanpa masa itu, aku takkan sampai pada kesadaran hari ini.

Mungkin kami tidak sepenuhnya salah. Kami hanya sedang belajar menyebut cinta dengan cara kami yang paling awal—cara yang belum matang.

Aku melangkah lagi, membawa serta kenangan tentang kami yang pernah dengan lantang menyebut diri pecinta alam. Kini, aku memilih berjalan sambil mendengarkan. Karena mungkin, mencintai alam dimulai dari kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita belum sepenuhnya mengerti.

sketsa foto dihasilkan dengan AI

Cerbung Episode 1 — Getar Pertama di Ketinggian

 



Langkahku terhenti di sebuah jembatan kayu tua. Angin berembus pelan, membawa bau tanah basah yang begitu kukenal, bau yang selalu berhasil membuka laci ingatan tanpa izin. Di titik ini, entah mengapa dadaku bergetar. Bukan karena dingin, bukan pula karena lelah. Ada rindu yang tiba-tiba menyeruak, rindu yang tak pernah kutitipkan pada siapa pun, rindu yang selama ini kupikir telah selesai.

Aku berdiri memandangi jalur setapak yang memanjang ke atas, menyusuri punggung gunung seperti garis nasib yang tak pernah lurus. Setiap batu, setiap akar yang mencuat dari tanah, terasa seperti saksi bisu dari perjalanan-perjalanan lama yang pernah kulalui—bersama orang-orang yang dulu kusebut kawan, saudara, bahkan keluarga di jalan sunyi bernama pendakian.

Dadaku berdegup lebih kencang saat kusadari satu hal sederhana namun menyakitkan: aku kembali, sementara banyak dari mereka tidak.

Entah sudah berapa tahun aku tak menjejakkan kaki di jalur ini. Waktu telah membawaku ke banyak tempat—ruang-ruang rapat, meja kerja, lorong-lorong kota yang bising—namun selalu ada bagian dari diriku yang tertinggal di ketinggian. Bagian yang tak pernah benar-benar pulang. Dan hari ini, tanpa seremoni, tanpa pengumuman pada siapa pun, aku kembali menjemputnya.

Aku menarik napas panjang. Udara gunung masuk ke paru-paruku dengan jujur, tanpa basa-basi. Tidak seperti udara kota yang penuh kompromi. Di sini, segalanya apa adanya. Dingin ya dingin. Lelah ya lelah. Tak ada yang perlu disembunyikan.

“Kenapa aku selalu kembali ke tempat ini?” gumamku pelan, entah pada siapa.

Pertanyaan itu tak menuntut jawaban. Ia hanya hadir, seperti banyak pertanyaan lain yang sepanjang hidup ini menemaniku tanpa pernah benar-benar terjawab.

Langkahku berlanjut. Setiap pijakan seperti membuka satu halaman kenangan. Aku teringat wajah-wajah yang dulu berjalan di depanku sambil tertawa keras, juga mereka yang berjalan di belakangku dengan napas tersengal namun mata berbinar. Kami pernah sama-sama yakin bahwa gunung adalah rumah kedua, bahwa alam adalah guru terbaik, bahwa kebersamaan cukup untuk menaklukkan segalanya.

Dulu.

Aku tersenyum kecil, senyum yang lebih mirip pengakuan daripada kebahagiaan. Betapa mudahnya dulu mengucap kata “pecinta alam”, seolah ia hanyalah label yang bisa disematkan begitu saja setelah satu dua kali mendaki. Betapa ringannya lidah ini menyebut cinta, tanpa benar-benar memahami tanggung jawab di baliknya.

Langkah demi langkah membawaku semakin masuk ke dalam jalur. Suara dedaunan bergesek, sesekali burung berkicau, selebihnya sunyi. Sunyi yang tidak menakutkan, justru menenangkan. Sunyi yang memaksaku untuk mendengar suaraku sendiri—suara yang selama ini tenggelam oleh kebisingan dunia.

Aku teringat percakapan-percakapan lama. Diskusi panjang di basecamp, perdebatan tentang makna pendakian, tentang idealisme, tentang siapa kita sebenarnya di hadapan alam. Dulu aku selalu bersemangat ikut berbicara, menyampaikan pendapat seolah telah memahami segalanya. Kini, di jalur ini, aku justru lebih banyak diam.

Mungkin karena aku mulai mengerti bahwa tidak semua hal perlu dijelaskan. Beberapa cukup dirasakan.

Keringat mulai membasahi pelipisku. Napasku teratur, namun pikiranku berkelana. Aku tidak tahu apa yang kucari dengan kembali ke gunung ini. Apakah aku ingin bertemu kenangan? Ataukah aku sekadar ingin lari sejenak dari hidup yang terasa terlalu rapi, terlalu terjadwal?

Atau mungkin, diam-diam, aku ingin memastikan bahwa aku masih manusia yang sama—yang bisa terharu oleh kabut pagi, yang bisa menangis tanpa sebab di ketinggian, yang masih mampu merasa kecil di hadapan semesta.

Aku berhenti sejenak, menoleh ke belakang. Jalur yang kulalui tampak mengecil, sebagian tertutup kabut tipis. Seperti masa lalu: masih ada, tapi tak lagi bisa kugenggam utuh. Aku sadar, perjalanan ini bukan tentang mencapai puncak secepat mungkin. Ini tentang keberanian untuk melangkah, meski tak yakin apa yang menunggu di atas sana.

“Pelan saja,” kataku pada diri sendiri.

Gunung tidak pernah meminta kita berlari. Ia selalu sabar menunggu.

Langit mulai berubah warna. Cahaya sore menyelinap di sela-sela pepohonan, menciptakan bayangan panjang di jalur. Di momen itu, aku merasakan sesuatu yang lama tak kurasakan: kehadiran. Aku benar-benar ada di sini. Tidak terjebak di masa lalu, tidak cemas akan hari esok.

Hanya aku, langkahku, dan jalur yang terus menanjak.

Entah apa yang akan kutemui nanti—jawaban, pertanyaan baru, atau mungkin hanya kelelahan yang menyadarkan—aku tidak tahu. Yang kutahu, perjalanan ini telah dimulai. Dan seperti semua perjalanan yang jujur, ia tidak menjanjikan apa-apa selain kemungkinan untuk mengenal diri sendiri sedikit lebih dekat.

Aku melangkah lagi, meninggalkan jembatan kayu di belakangku. Getar di dadaku belum juga reda. Tapi kali ini, aku membiarkannya. Karena mungkin, getar inilah tanda bahwa aku masih hidup.

catatan : sketsa gambar dihasilkan dengan AI

Sunday, December 21, 2025

Kisah Tiada Ujung di Tebing Siung

Tebing Pantai Siung

Aku tak sempat melihat bayangannya berkelebat. Tidak ada teriakan, tidak ada suara jatuh, tidak ada jejak yang bisa kuikuti. Semua begitu cepat—terlalu cepat untuk sebuah penyesalan yang baru kusadari datangnya belakangan.

Debur ombak Pantai Siung seakan menertawakan kebodohanku. Ia menghantam karang dengan irama yang kejam, seperti mengejek ketidakmampuanku menjaga seseorang yang semestinya tak kutinggalkan sendirian di tepi jurang itu. Penyesalan, pada akhirnya, memang selalu datang sebagai barang sisa—tak pernah berguna.

Aku memejamkan mata, mencoba menata ulang ingatan.

Semalam, kami duduk di depan parkiran Mbah Wasto. Hanya berdua. Hujan turun deras, mengguyur bumi tanpa kompromi, tapi kami tidak peduli. Kami berbincang ngalor-ngidul, dari hal remeh sampai perkara yang terlalu dalam untuk disebutkan. Tentang lelah hidup, tentang rindu pulang ke alam, tentang diam yang lebih jujur daripada kata-kata.

Hujan tak memutus percakapan. Malam berjalan tanpa terasa. Kata-kata mengalir seperti sungai yang lupa muaranya. Aku bahkan tak ingat kapan pagi mulai menyelinap di sela-sela gelap, karena suara kami masih saja menyambung—seolah jika berhenti berbicara, sesuatu akan runtuh.

Aneh.
Kami sendiri tak benar-benar tahu obrolan itu milik siapa dengan siapa.

Teman?
Sahabat?
Saudara?
Atau dua orang yang diam-diam saling menunggu keberanian?

Status, semalam, kami sepakat untuk menyingkirkannya. Tak penting, katanya. Apalagi setelah malam di hutan beberapa hari lalu—malam panjang yang kami lewati tanpa kejadian apa pun. Semuanya baik-baik saja. Setidaknya itu yang kami yakini.

Namun pagi ini membantah semuanya.

Pagi di tepi jurang Pantai Siung membuatku sadar: kami tidak baik-baik saja. Ada sesuatu yang dipendam gadis berkaos putih itu. Sesuatu yang tak ia ucapkan, tapi kini berteriak lewat kehilangannya.

Matahari semakin tinggi. Panas kian menyengat. Aku berlari menyusuri tepian, memanggil namanya berulang kali—namun suaraku kalah oleh angin laut. Kekhawatiran menumpuk di dada: apakah ia terjatuh ke jurang? Apakah seseorang membawanya pergi? Ataukah ia tersesat, dikejar kera ekor panjang yang berkeliaran di sekitar tebing?

Tebung Pantai Siung

Aku mencari ke setiap sudut yang bisa kujangkau. Setiap langkah terasa sia-sia, namun berhenti terasa lebih kejam.

Aku belum menemukannya.

Yang kutemukan hanya kaos putih itu—terbayang di kepalaku, berdiri di tepi jurang, dengan mata yang mungkin menyimpan cerita yang tak sempat kuceritakan ulang.

Dan di antara deru ombak yang tak pernah lelah, aku akhirnya mengerti:
ada perpisahan yang tak pernah mengucapkan salam.
Ada kehilangan yang datang bukan karena pergi,
melainkan karena kita terlalu lama mengira semuanya baik-baik saja.

Aku masih mencari.
Dan mungkin, sebagian dari diriku akan terus mencari—
bahkan jika gadis berkaos putih itu hanya tinggal sebagai kenangan
yang tak pernah benar-benar pulang.

Membuat Rencana Pendakian Sambil Kulineran di kampung Jawi

Alvin & Kasih

Alvin selalu mudah dikenali. Tubuh atletis, wajah ganteng yang bersahaja, kemeja flanel kotak-kotak yang tak pernah absen, topi outdoor meneduhkan mata, dan tas punggung Eiger yang menemaninya ke mana pun pergi—ke kampus, ke pasar Johar, bahkan ke mimpi-mimpi yang ia simpan rapat. Ia pendaki gunung, dan hidupnya adalah tanjakan yang tak selalu ramah.

Kasih adalah puncak yang paling ia rindukan. Gadis muda yang sangat—sangat—cantik, pendaki gunung dengan gaya anak gunung sejati. Senyumnya hangat, matanya jernih. Namun cinta mereka berdiri di antara dua dunia yang berjarak: perbedaan kasta. Kasih adalah anak pengusaha terkenal dengan kekayaan miliaran; Alvin anak rantau yang kuliah sambil bekerja serabutan, menjadi kuli panggung di Pasar Johar demi bertahan.

Tempat mereka bertemu dunia adalah Kuliner Kampung Jawi, Gunungpati. Murah, syahdu, romantis. Di sana, mereka bisa duduk dari buka sampai tutup, berbagi cerita, menyimpan harap.

“Aku selalu kagum sama kamu,” kata Kasih suatu malam, jemarinya melingkar di gelas wedang.
“Kagum kenapa?”
“Kamu cerdas. Kamu berani. Kamu tetap sopan meski hidupmu keras.”

Alvin tersenyum, menunduk sebentar.
“Kalau aku kagum sama kamu karena kamu memanusiakan manusia,” katanya pelan. “Kamu hangat ke siapa pun.”

Malam Sabtu itu, rencana pendakian mereka mengambang di udara seperti kabut. Mereka mencoba menyusun strategi pamit pada orang tua Kasih—cerita ini, alasan itu—namun selalu mentok. Tak ada celah yang aman.

“Kalau aku bilang ke Mama mau nginep di rumah teman…”
“Nanti dicek,” potong Alvin.
“Kalau ada acara kampus?”
“Sudah terlalu sering,” Alvin menghela napas.

Keheningan jatuh. Lampu-lampu Kampung Jawi berpendar lembut, seolah mengerti.

“Aku capek,” suara Kasih bergetar. “Maaf ya, Vin… belum bisa.”

Air mata jatuh tanpa permisi. Alvin merengkuhnya, pelukan yang tak berisik tapi kokoh.
“Jangan minta maaf,” bisiknya. “Kita cuma sedang menunggu waktu.”

Kasih menggeleng pelan di dadanya. “Aku pengen mendaki sama kamu.”

“Aku juga.”

Saat mereka berpisah dari pelukan, jarak itu menipis sendiri. Tatapan bertaut. Tak ada rencana, tak ada niat—hanya kejujuran yang terlalu dekat untuk dihindari. Ciuman itu datang lembut, ragu, indah. Kasih tersenyum malu setelahnya, pipinya merona, matanya berkaca.

“Maaf,” katanya kecil.
“Jangan,” Alvin tersenyum. “Ini bukan salah.”

Malam menutup kisah itu dengan sunyi yang manis. Di antara flanel dan dunia yang berbeda, mereka belajar: cinta tak selalu mendaki hari ini—kadang ia bertahan, setia, menunggu cuaca baik.

Kesandung Cinta Guretno di Tugu Muda

Bambang dan Guretno

Bambang tahu benar kelebihan yang ia miliki. Tubuhnya tinggi, kurus, wajahnya bersih dengan senyum yang mudah membuat orang betah mendengar suaranya—tak heran ia jadi penyiar radio favorit pendengar malam. Banyak perempuan datang dan pergi, dan Bambang tak pernah menolak kenyataan itu. Ia menikmati reputasinya sebagai playboy, berganti pacar seperti mengganti lagu di playlist.

Hingga suatu sore, hidupnya tersandung—secara harfiah.

“Eh—maaf!”
Bambang refleks menahan tubuh seorang gadis yang hampir terjatuh di pinggir bunderan Tugu Muda.

Gadis itu mendongak. Kulitnya hitam manis, rambut panjang tergerai, tubuhnya langsing dengan gaya yang sedikit tomboy. Matanya tajam tapi senyumnya hangat.

“Mas, kalau nabrak itu pakai klakson, bukan pakai badan,” katanya sambil tertawa kecil.

Bambang terdiam. Untuk pertama kalinya, ia lupa membalas rayuan.

Namanya Guretno.

Sejak hari itu, Bambang berubah jadi pengejar. Ia mencari-cari cara mendapatkan nomor Guretno, hingga akhirnya mendapatkannya dari seorang teman. Pesan pertama terkirim. Ditolak. Ajakan kedua—ditolak lagi. Ketiga, keempat, hingga keempat belas—semuanya sama.

“Mas Bambang nggak capek?” tulis Guretno suatu hari.
“Kalau capek, aku berhenti. Tapi kalau belum dapat kamu, aku masih kuat,” balas Bambang.

Ajakan kelima belas datang tanpa ekspektasi.
“Aku traktir kopi. Di Kota Lama. Kalau kamu nolak, aku nggak akan ganggu lagi.”

Lama tak ada balasan. Hingga akhirnya:
“Ya sudah. Taman Sri Gunting. Sore.”

Bambang datang lebih awal. Jantungnya tak setenang biasanya. Guretno muncul dengan kaus sederhana dan senyum tipis.

“Mau ngomong apa sampai maksa begini?” tanya Guretno.

Bambang menarik napas.
“Aku kagum sama kamu. Bukan karena cantikmu saja, tapi caramu tertawa, caramu jujur. Aku ingin kamu jadi pacarku.”

Guretno menunduk.
“Aku tahu reputasi kamu, Mas. Aku nggak mau jadi daftar nama.”

Bambang tersenyum kecil.
“Kalau kamu takut aku berubah, justru kamu alasannya.”

Penolakan itu datang lagi. Halus, tenang. Tapi Bambang tak berhenti. Ia hadir, mendengar, menemani—tanpa memaksa. Pengakuan demi pengakuan ia sampaikan, hingga yang kelima belas bukan lagi rayuan, melainkan kejujuran.

“Aku jatuh cinta, Retno. Dan kali ini, aku nggak main-main.”

Sunyi jatuh di antara mereka. Guretno menatapnya lama, lalu tersenyum malu.

“Kamu ini bandel,” katanya pelan.
“Karena kamu layak diperjuangkan.”

Pelukan itu datang duluan dari Guretno. Hangat, ragu, tapi tulus. Bibir mereka bertemu singkat, lembut—cukup untuk menyepakati perasaan yang sama-sama diharapkan.

Di antara bangunan tua Kota Lama, Bambang akhirnya tahu:
tidak semua pendakian tentang menaklukkan puncak.
Sebagian tentang berani menetap.

 

Kisah Cinta Antara Lereng Merapi dan Tugu Jogja

Awan dan Ninis di Tugu Jogja

Awan dikenal di kampus sebagai aktivis mahasiswa yang jarang absen dari barisan diskusi dan barisan gunung. Tubuhnya atletis, wajahnya ganteng dan hampir selalu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dengan tas punggung setia di bahu. Malam itu, malam minggu, ia hendak menengok Pendidikan Dasar Pecinta Alam di lereng Merapi, tepat di belakang rumah almarhum Mbah Marijan, hingga Gua Jepang.

Rencananya sederhana. Datang, menengok, lalu pulang.

Namun rencana sering kalah oleh satu hal: Ninis.

“Aku ikut,” kata Ninis sambil menyilangkan tangan, nada suaranya datar tapi tak memberi celah.

“Ini malam, Nin. Lereng Merapi. Gelap,” jawab Awan.

“Makanya aku ikut kamu.”

Ninis gadis polos berambut panjang, kulitnya hitam manis terbakar matahari, wajahnya cenderung bulat, tubuhnya langsing bahkan hampir kurus. Tatapannya tenang, tapi keras kepala. Awan menyerah.

Perjalanan naik terasa biasa—sampai gelap benar-benar menelan lereng Merapi. Angin menyapu dedaunan, kabut turun pelan, dan lampu senter seperti titik kecil yang mudah hilang.

Sejak itu, Ninis berubah.

“Awan…” suaranya mengecil, tangannya menarik lengan flanel Awan.
“Kamu kenapa?”
“Gelap.”

Sejak saat itu, Ninis nempel. Mau wudhu minta diantar. Mau sholat minta ditungguin.

“Awan, jangan ke mana-mana ya.”
“Aku di sini, Nin.”

Bahkan ketika ia berbisik paling pelan,
“Awan… aku mau pipis.”

Awan terdiam.
“Di toilet sana.”
“Temenin.”
“Di luar aja, Nin.”
“Di dalem. Gelap…”

Awan menghela napas, pasrah.

Kebersamaan yang runtang-runtung itu tak luput dari mata para senior pecinta alam. Bisik-bisik mulai beredar, senyum setengah mengejek, tatapan penuh tafsir.

“Itu pacarnya ya?”
“Kayaknya lebih dari itu.”
“Baru juga datang.”

Ninis mulai gelisah. Tatapannya tak lagi nyaman.

“Awan,” katanya pelan. “Aku pengen turun.”

“Sekarang?”
“Iya. Ke Tugu Jogja.”

Awan menatap jam tangan. Hampir tengah malam.
“Kamu mau apa di Tugu?”
“Foto. Sepi. Aku pengen.”

Mereka turun, menembus malam. Sekitar pukul tiga dini hari, Tugu Jogja berdiri sunyi, lampu-lampu menyala lembut. Jalanan lengang. Kota seperti menahan napas.

Ninis berdiri di depan tugu, rambutnya tergerai, senyum kecil muncul.
“Ambilin aku foto ya.”
Awan mengangguk, mengabadikan momen yang terasa sederhana tapi hangat.

Setelahnya, kantuk datang bersamaan. Mereka mencari penginapan kecil, hanya untuk tidur sejenak sebelum lanjut ke Pantai Siung.

Di kamar sempit dengan lampu temaram, sunyi kembali menyergap—tapi kali ini bukan sunyi yang menakutkan.

Ninis duduk di tepi ranjang.
“Awan…”
“Kenapa?”
“Makasih ya.”

Awan tersenyum. Mereka saling menatap, jarak menipis tanpa rencana. Detik berjalan lambat. Nafas mereka saling bersentuhan.

Tanpa kata, Awan mendekat.

Ninis memejamkan mata.

Ciuman itu singkat, ragu, hangat. Ninis tersenyum malu, menunduk, lalu menyembunyikan wajahnya di dada Awan.

“Jangan ketawa,” katanya pelan.
“Aku nggak ketawa,” jawab Awan sambil tertawa kecil.

Di luar, Jogja tetap sunyi.
Di dalam kamar kecil itu, dua hati menemukan sesuatu yang tak diduga—
namun diam-diam, diharapkan.

Sketsa Foto digambar dengan AI

Romantisme Malam Tahun Baru di Lereng Sumbing

Damar & Retno 

Di antara gemerisik angin pagi di padepokan kecil di pinggir kota, Damar selalu menemukan ketenangan. Lelaki itu telah lama mengabdikan diri sebagai pelatih silat—bukan sekadar mengajarkan gerak, tetapi menanamkan adab dan rasa. Namun satu hal yang tak ia sangka, bahwa sebuah rasa justru menamparnya kembali.

Retno. Muridnya yang datang dua tahun lalu dengan langkah ringan, wajah manis yang selalu tampak sejuk, dan gerak silat yang rapi seperti sudah sejak kecil ditempa angin dan tanah. Setiap kali Retno melangkah, Damar selalu merasa seperti melihat embun yang jatuh di ujung daun; bening, halus, tapi mampu memantulkan cahaya.

Mulanya Damar menahan diri. Usianya jauh lebih matang, dan ia telah berkeluarga. Tapi hati manusia kadang seperti daun kering yang tiba-tiba terseret angin: tak bisa memilih ke mana harus bergerak. Ia mencoba menjauh, namun justru di situlah ia semakin sering menoleh.

Retno pun tak buta. Ia merasakan sorot mata gurunya yang berubah—bukan sembunyi, tapi tak lantang. Ia pun menyimpan rasa yang tak berani ia beri nama. Hingga waktu yang memanjang dua tahun itu akhirnya memeras keberanian keduanya. Pada suatu sore setelah latihan panjang, Retno berdiri menunduk—entah menutupi lelah atau menahan gemuruh.

“Mas… jika perasaan itu memang ada, aku tak sanggup pura-pura tidak melihatnya,” ucap Retno lirih.

Damar terdiam. Ada hujan yang jatuh tanpa suara dalam dadanya. “Retno… hidupku bukan halaman kosong. Aku takut kita menanam sesuatu di tanah yang salah.”

Retno mengangguk, namun matanya basah. “Tapi hati manusia… kadang tumbuh di tempat yang tidak kita duga.”

Dan pada hari itu, untuk pertama kalinya, Damar menggenggam tangan Retno. Genggaman yang tak boleh dilihat siapa pun. Genggaman yang akan mereka bawa dalam perjalanan panjang penuh diam dan sembunyi.

Tahun berganti. Malam terakhir sebelum pergantian tahun, mereka memutuskan pergi ke Gunung Sumbing. Bukan sebagai guru dan murid. Bukan pula sebagai dua manusia yang mencari pembenaran. Mereka hanya ingin menjadi dua hati yang sedang mencari ruang bernapas.

Angin di punggungan Sumbing malam itu menggigit. Kabut turun pelan seperti tirai tipis. Api kecil yang mereka buat tak benar-benar menghangatkan. Damar menatap Retno yang duduk memeluk lutut, wajahnya memerah oleh dingin.

“Dingin banget, Mas,” bisiknya.

Tanpa banyak kata, Damar merentangkan tangannya. Retno masuk ke dalam pelukan itu—perlahan, namun pasti. Di sana, di puncak dunia kecil milik mereka, tubuh mereka bertaut bukan karena nafsu, tetapi karena dingin yang begitu menyelimuti dan rindu yang sudah terlalu lama bersembunyi.

Angin melolong, tapi dada mereka terasa tenang.

Jam-jam itu berjalan pelan. Retno memejamkan mata, kepalanya bersandar di bahu Damar. “Andai waktu bisa berhenti, Mas… aku ingin berhenti di sini saja.”

Damar menatap gelap yang tak sepenuhnya gelap. Hatinya penuh tanya. “Retno… aku takut. Takut pada apa yang kita jalani.”

“Tapi aku bahagia,” jawab Retno, suara serak oleh udara tipis.

Pelukan itu menguat. Dingin tak lagi menusuk. Yang tersisa hanya hangat yang sulit dijelaskan. Saling merapat, saling menjaga, seolah dunia luar tak pernah ada. Di sana cinta mereka mengikat semakin erat—bukan karena benar, bukan pula karena salah—tapi karena manusia kadang butuh tempat untuk meletakkan hatinya meski hanya sesaat.

Ketika kembang api di kejauhan meletup menyambut tahun baru, Damar dan Retno masih saling memeluk. Tidak merayakan, tidak bersorak. Mereka hanya diam—karena banyak hal dalam hidup lebih baik disimpan di antara dua dada yang saling bersandar.

Dan Gunung Sumbing malam itu menjadi saksi: bahwa cinta tak selalu datang pada saat yang tepat, tapi ia tetap datang. Membawa bahagia, membawa luka, membawa keraguan.

Namun pada pelukan panjang itu, mereka tak memikirkan apa pun selain satu hal:

Bahwa untuk satu malam, mereka diperbolehkan menjadi dua hati yang saling membutuhkan.

Noted : Sketsa digambar dengan AI

Wednesday, December 3, 2025

Sibarista (Sinau Bareng Pemasaran Pariwisata) Award 2025

Semarang – Ajang pencarian bakat dan kompetensi pemasaran sektor pariwisata bertajuk Sibarista Marketer Award 2025 sukses terselenggara dengan antusiasme tinggi. Kompetisi ini menjadi wadah apresiasi sekaligus pembinaan bagi para pelaku pemasaran pariwisata dari berbagai unsur—mulai dari desa wisata, hotel, restoran, hingga industri hiburan.



Babak Penyisihan – 20 Oktober 2025

Babak penyisihan dilaksanakan pada 20 Oktober 2025 di Gedung Oudetrap, Kawasan Kota Lama Semarang. Sebanyak 60 peserta mengikuti tahap ini dengan mengerjakan tes tertulis yang mencakup berbagai aspek pemasaran modern, antara lain:

  • Branding

  • Advertising

  • Selling

  • Public Speaking

  • Grooming

Ajang ini dirancang tidak hanya untuk menguji pengetahuan teknis pemasaran, namun juga kemampuan personal branding dan komunikasi yang menjadi elemen penting dalam membangun citra pariwisata yang berdaya saing.

Babak Semifinal – 20 Peserta Terbaik

Setelah melalui proses penilaian, 20 peserta dengan skor tertinggi melaju ke babak semifinal. Pada tahap ini, peserta menjalani wawancara pendalaman dengan ruang lingkup kompetensi yang sama seperti sebelumnya, ditambah penilaian portofolio pemasaran dan/atau penjualan sebagai bukti konkret kontribusi mereka dalam unit kerja masing-masing.

Seluruh portofolio divalidasi oleh atasan langsung peserta untuk memastikan keaslian dan akurasi data penilaian.

Penetapan Finalis dan Grand Final

Dewan juri kemudian menggelar rapat final untuk menentukan peserta dengan akumulasi nilai tertinggi. Berdasarkan hasil wawancara mendalam dan penilaian portofolio, ditetapkan 5 finalis terbaik yang berhak melaju ke Babak Grand Final di Gedung Teater TBRS, Semarang.

Grand Final menampilkan presentasi terbaik dari para finalis, menegaskan kemampuan mereka dalam strategi pemasaran pariwisata, komunikasi publik, hingga inovasi program branding destinasi.

Hasil & Pemenang Sibarista Marketer Award 2025

 Kompetisi Sibarista Marketer Award 2025 menutup rangkaian kegiatan dengan penuh prestise. Dari 60 (atau lebih, menurut penyelenggara) peserta awal yang mewakili berbagai sektor pariwisata — hotel, desa wisata, restoran, dan tempat hiburan — telah melalui seleksi ketat sejak babak penyisihan, semifinal, hingga grand final. 

Pada babak Grand Final di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), dewan juri memutuskan lima pemenang utama berdasarkan gabungan hasil tes tertulis, wawancara mendalam, portofolio pemasaran/penjualan, serta performa presentasi. 

Dengan bangga, piala juara tertinggi jatuh pada Octaviani Shinta Dewi dari UP PEAK Hotel Simpang Lima — menunjukkan bahwa kualitas pemasaran pariwisata yang baik berasal dari kombinasi pengetahuan, kreativitas, serta upaya nyata di lapangan.  Selamat juga kepada Suhono (Juara II), Zunta Ovidani (Juara III), serta Bambang Wijanarko, Sumarman, dan Catur Bale sebagai juara harapan — semua menunjukkan potensi besar dalam memajukan pariwisata di Semarang. 

Kami berharap penghargaan ini menjadi motivasi kolektif bagi para pelaku wisata di Kota Semarang untuk terus berinovasi, berkolaborasi, dan membawa pariwisata kota ke tingkat lebih tinggi.

Sunday, November 30, 2025

Octaviani Shinta Dewi Raih Juara I Sibarista Marketer Award 2025 Kota Semarang

 


SEMARANG, Jatengnews.id – Ajang Sibarista Marketer Award 2025 Kota Semarang resmi menobatkan Octaviani Shinta Dewi sebagai Juara I. Kompetisi bergengsi yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang ini menjadi wadah apresiasi bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif yang inovatif dan inspiratif.

Octaviani, yang akrab disapa Via, berhasil mengungguli para pesaingnya dalam babak Grand Final yang berlangsung di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Kamis (6/11/2025).

Posisi kedua diraih oleh Suhono dari Desa Wisata Kandri, sementara Juara III diraih oleh Zunta Ovidani dari Hotel Louis Kienne Jalan Pemuda, Semarang.

Usai menerima penghargaan, Via dari UP PEAK Hotel Simpang Lima mengaku bangga sekaligus terharu atas pencapaian yang diraihnya.

Baca jugaSibarista Bikin 10 Kandri Baru di Desa Wisata Jatirejo Semarang

“Setelah melalui seluruh proses penilaian, rasanya bahagia dan bangga bisa meraih juara. Ini menjadi tanggung jawab besar bagi saya untuk terus berkontribusi bagi pariwisata Kota Semarang,” ujarnya saat ditemui, Jatengnews.id.

Via menilai, ajang ini tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga sarana pembelajaran dan kolaborasi antar peserta.

“Persaingannya sangat sehat, karena para finalis bisa saling berbagi ilmu dan menyemangati satu sama lain. Harapannya, setelah ini bisa terjalin kolaborasi yang baik antar pelaku wisata di Semarang,” tambahnya.

Peserta Lebih Beragam

Ajang ini merupakan puncak dari rangkaian seleksi yang melibatkan pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dari berbagai sektor, mulai dari desa wisata, tempat hiburan, restoran, hingga hotel dan lainnya.

Salah satu dewan juri, Eko Prasetyo, menjelaskan bahwa pelaksanaan tahun ini lebih luas dibanding tahun sebelumnya.

“Tahun ini jumlah peserta lebih banyak menjadi sekitar 70 orang dibanding tahun sebelumnya. Ruang lingkupnya juga lebih luas, tidak hanya dari hotel, tapi juga dari desa wisata, tempat hiburan, dan restoran. Jadi tantangannya semakin beragam,” jelas Eko.

Menurutnya, penilaian tahun ini menitikberatkan pada kemampuan personal peserta dalam aspek penjualan dan strategi pemasaran kreatif.

“Kami menilai dari hasil tes tertulis, wawancara, hingga performa presentasi. Selai n itu, portofolio peserta juga menjadi pertimbangan penting karena menunjukkan pencapaian mereka selama setahun terakhir,” imbuhnya.

Disbudpar Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Pariwisata

Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Kota Semarang, Monie Adityorini, yang mewakili Kepala Dinas, menjelaskan bahwa tahun ini ruang lingkup peserta diperluas untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor di dunia pariwisata.

“Kalau tahun lalu hanya melibatkan pelaku desa wisata, tahun ini kami merangkul lebih banyak pihak seperti hotel, restoran, tempat hiburan, hingga komunitas pariwisata. Tujuannya agar semua elemen dapat bersama-sama mempromosikan Kota Semarang,” jelas Monie.

Ia menegaskan bahwa Dinas Pariwisata tidak bisa bekerja sendiri dalam menggerakkan sektor pariwisata. Diperlukan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat untuk membangun ekosistem pariwisata yang kuat dan berkelanjutan.

“Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti di acara penghargaan saja, tapi berlanjut dalam kerja sama nyata. Misalnya, saat ada event tanggal 7-8 seperti Festival Wayang Semesta, semua pihak bisa terlibat bersama menjadikannya magnet wisatawan ke Kota Semarang,” paparnya.

Menurutnya, meningkatnya kunjungan wisatawan akan berdampak langsung pada ekonomi masyarakat.

“Semakin banyak wisatawan datang ke Semarang, maka pergerakan ekonomi juga akan meningkat. Kami ingin wisatawan tak hanya datang ke ikon besar seperti Kota Lama atau Lawang Sewu, tetapi juga mengenal desa wisata yang kini sudah siap dipromosikan,” tambahnya.

Baca jugaRembug Pariwisata 2025: Semarang Mantapkan Langkah Menuju Transformasi Digital Wisata

Monie berharap, kegiatan seperti Sibarista Marketer Award dapat terus berlanjut dan berkembang sebagai wadah kolaborasi antar pelaku pariwisata.

“Harapannya kegiatan ini bisa terus berlanjut, semakin besar, dan semakin banyak pihak yang terlibat. Karena semangatnya adalah bagaimana kita bersama-sama memajukan pariwisata Kota Semarang,” pungkasnya.

Daftar Pemenang Sibarista Marketer Award 2025 Kota Semarang

Berikut hasil penilaian dewan juri Sibarista Marketer Award 2025 Kota Semarang:

Juara I: Octaviani Shinta

Juara II: Suhono

Juara III: Zunta Ovidani

Juara Harapan I: Bambang Wijanarko

Juara Harapan II: Sumarman

Juara Harapan III: Catur Bale

Kegiatan ini menjadi bentuk apresiasi Dinas Pariwisata Kota Semarang terhadap para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif yang terus berinovasi serta berkontribusi dalam memajukan sektor pariwisata melalui strategi pemasaran yang kreatif, kolaboratif, dan berkelanjutan. (01).

sumber : Octaviani Shinta Dewi Raih Juara I Sibarista Marketer Award 2025 Kota Semarang

Thursday, October 30, 2025

13 Desa Wisata di Semarang Yang Wajib Kamu Kunjungi 2

2. Desa Wisata Nongkosawit


Pagi baru saja membuka tirai di Desa Wisata Nongkosawit. Kabut tipis masih menempel di pucuk bambu, sementara angin lembut berhembus membawa aroma tanah yang basah semalam. Di tengah halaman rumah joglo yang teduh, bunyi gamelan pelan-pelan mengisi udara—ting, dung, ting, dung—mengalun seperti sapaan ramah dari masa lalu.

Di satu sudut, Ibu-ibu tersenyum sambil memukul bilah logam kuningan, menciptakan irama yang membuat hati ikut menari. Tak jauh dari situ, sepasang tangan muda tengah sibuk merangkai manik-manik warna-warni menjadi gelang cantik. Setiap simpul tali seperti mengikat makna: kesabaran, ketelatenan, dan cinta pada tradisi. Lalu di halaman rumput yang hijau, seorang penari berbalut kebaya kuning mulai menggerakkan tubuhnya. Lenggoknya lembut, tapi berwibawa—seolah setiap gerakan adalah doa bagi bumi Nongkosawit.

Di desa ini, wisata bukan sekadar datang dan melihat, tapi ikut hidup di dalamnya. Setiap nada gamelan mengajak kita mendengar harmoni, setiap kerajinan mengajarkan makna tangan yang bekerja, dan setiap tarian mengingatkan bahwa budaya bukan barang pajangan, melainkan napas yang terus berdenyut.

Nongkosawit tidak menjual gemerlap, tapi menghadirkan keindahan dalam kesederhanaan. Ia mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati ada pada kebersamaan, pada tawa yang lahir dari gotong royong, dan pada rasa bangga menjaga warisan.

Saat matahari naik, cahaya menimpa wajah-wajah yang penuh semangat. Di sini, masa lalu dan masa kini bersatu, menciptakan harmoni yang membuat siapa pun betah berlama-lama. Nongkosawit bukan sekadar desa wisata—ia adalah panggung kecil di mana budaya hidup kembali dengan senyum yang tulus dan irama yang abadi.


13 Desa Wisata di Semarang Yang Wajib Kamu Kunjungi

 1. Desa Wisata Kandri


Pagi di Desa Wisata Kandri selalu dimulai dengan senyum. Udara masih basah oleh embun, sawah berkilau diterpa cahaya matahari yang malu-malu muncul dari balik bukit. Burung-burung berceloteh riang, seolah tahu bahwa hari ini akan jadi cerita indah bagi siapa pun yang datang. Begitu menginjakkan kaki di sini, suasananya langsung berbeda—lebih pelan, lebih jujur, lebih manusiawi.

Di Kandri, wisata bukan soal melihat, tapi mengalami. Cobalah paket “nyawah” — di sinilah sepatu dilepas, kaki menjejak lumpur, dan tawa pecah bersama petani yang mengajari cara menanam padi dengan sabar dan jenaka. Setelah itu, lanjut cabut singkong. Jangan kaget kalau ternyata singkongnya lebih bandel dari yang dibayangkan! Tapi di situlah serunya: sedikit peluh, banyak canda, dan hasil bumi yang langsung bisa dinikmati bersama.

Belum puas? Mari duduk di bawah pohon rindang, melukis caping dengan warna-warna ceria. Ada yang menggambar bunga, ada yang menulis nama gebetan—semuanya sah, karena di Kandri, kreativitas bebas menari. Dan ketika matahari mulai condong, perahu wisata siap menunggu di tepi sungai. Airnya tenang, hembusan anginnya lembut, dan percikan kecil di permukaan air seolah menulis puisi sederhana: bahagia itu sesederhana ini.

Desa Wisata Kandri bukan sekadar tempat singgah, tapi ruang belajar untuk kembali mencintai hal-hal kecil yang sering kita lupakan. Di sini, kita tidak sekadar berlibur, tapi juga belajar bersyukur. Karena di setiap lumpur, caping, singkong, dan kayuh perahu, ada makna tentang kehidupan yang mengalir pelan namun pasti.

Kandri — di mana wisata menjadi cerita, dan cerita menjadi kenangan yang sulit dilupakan.

Sunday, October 12, 2025

🌟 We Are All Marketer – Cerita Semangat dari Sibarista Semarang 🌟

Pagi itu, di lobi sebuah hotel di Semarang, seorang resepsionis menyambut tamu dengan senyum tulus. Ia bukan hanya melayani, tapi mewakili keramahan kota ini. Di tempat lain, seorang barista menata latte art bergambar Lawang Sewu, lalu memotret hasilnya dan mengunggah ke Instagram dengan tagar #WisataSemarang. Tak jauh dari sana, pemilik homestay kecil sibuk membalas pesan di WhatsApp, menawarkan promo akhir pekan.

Mereka berbeda profesi. Tapi ada satu semangat yang sama menyatukan mereka: mereka semua adalah marketer.

Inilah semangat komunitas  Sibarista — komunitas Sinau Bareng Pemasaran Pariwisata Semarang yang percaya bahwa promosi bukan hanya soal iklan, tapi tentang bagaimana setiap dari kita menebarkan cerita.
Cerita tentang keramahan, keindahan, dan kebanggaan terhadap kota yang kita cintai.

Kita tak menunggu peluang datang.
Kita menciptakannya — melalui website dan media sosial yang aktif, kolaborasi dengan influencer dan content creator, hingga iklan digital di Google, marketplace, dan OTA. Kita bergerak juga di dunia nyata, lewat sales mission, table top, roadshow, dan pameran. Setiap langkah, setiap senyum, setiap unggahan, adalah bagian dari strategi besar mempromosikan Semarang.

Sibarista mengajarkan bahwa promosi bukan tanggung jawab satu divisi, tapi budaya bersama.
Ketika semua orang ikut berbagi cerita positif, kekuatan itu menjadi tak terbendung.
Dan dari sinilah, Semarang bersinar — bukan hanya sebagai kota tujuan wisata, tapi sebagai rumah bagi orang-orang yang mencintai pariwisatanya dengan sepenuh hati. ❤️

Sibarista – We Are All Marketer!
Karena setiap dari kita punya peran untuk membawa Semarang lebih dikenal, lebih dicintai, dan lebih mendunia. 🌍

Saturday, September 6, 2025

MAKNA dan LOGO WARM - SIBARISTA


Logo WARM (We Are All Marketing) dengan lingkaran bertuliskan “Sinau Bareng Pemasaran Pariwisata – Kota Semarang” memiliki makna mendalam yang selaras dengan semangat kebersamaan dalam pemasaran pariwisata. Berikut penjelasannya:

1. Bentuk Lingkaran

Lingkaran melambangkan kebersamaan, kesatuan, dan kesinambungan. Artinya, pemasaran pariwisata di Kota Semarang harus dilakukan bersama-sama secara kolektif oleh semua pihak, baik desa wisata, rintisan wisata, maupun pelaku UMKM.

2. Huruf “WARM”

  • WARM bermakna “hangat”, merepresentasikan sikap ramah khas masyarakat Semarang kepada wisatawan.
  • Singkatan We Are All Marketing menunjukkan bahwa setiap anggota komunitas pariwisata adalah bagian dari promotor destinasi.

3. Tulisan Melengkung

  • “Sinau Bareng Pemasaran Pariwisata” di bagian atas menunjukkan semangat belajar bersama.
  • “Kota Semarang” di bagian bawah menegaskan identitas lokal dan fokus pengembangan pariwisata di wilayah ini.

4. Warna Utama

  • Oranye → simbol semangat, kreativitas, dan inovasi dalam digital marketing.
  • Merah gelap → melambangkan keberanian, tekad, dan profesionalisme.
  • Beige / krem (latar) → memberi kesan hangat, bersahabat, dan mudah diterima semua kalangan.

5. Aksesori Flask (lab kecil)

Melambangkan eksperimen dan inovasi — bahwa pemasaran pariwisata adalah proses belajar, mencoba strategi baru, dan menemukan cara terbaik memperkenalkan potensi wisata.

Secara keseluruhan, logo ini mengajak semua pelaku pariwisata di Semarang untuk hangat, kreatif, berani, dan kompak dalam memasarkan pariwisatanya.


 

Friday, September 5, 2025

CEO Massage : Inovasi Baru program digitalisasi MBG - (G)PB


Google Profil Business (GPB)
menjadi salah satu senjata utama dalam pemasaran digital yang seringkali terlupakan, padahal dampaknya sangat besar. Bagi anggota SIBARISTA, khususnya pengelola desa wisata dan rintisan wisata di Kota Semarang, kehadiran GPB sangat membantu calon wisatawan dalam tahap akhir pengambilan keputusan berkunjung. Setelah mereka tertarik dari konten media sosial dan memperoleh informasi mendalam dari blog, langkah berikutnya adalah mencari lokasi, rute perjalanan, serta referensi tambahan. Di sinilah GPB memainkan peran penting.

Dengan mengoptimalkan profil, pengelola bisa menampilkan alamat lengkap, jam operasional, nomor kontak, foto terbaru, hingga tautan menuju website atau media sosial. Review dari pengunjung sebelumnya juga menjadi nilai tambah karena memberikan gambaran nyata tentang pengalaman wisata. Lebih dari itu, GPB otomatis terhubung dengan Google Maps, sehingga calon wisatawan bisa dengan mudah menemukan jalur tercepat, memperkirakan waktu tempuh, hingga menjelajahi area sekitar destinasi. Bagi desa wisata dan rintisan, kehadiran di GPB meningkatkan kredibilitas sekaligus memperkuat citra profesional.

Maka, pemasaran melalui Google Profil Business bukan sekadar pelengkap, melainkan tahap penting yang melengkapi perjalanan digital wisatawan, dari rasa penasaran di media sosial hingga langkah nyata berkunjung ke destinasi wisata di Kota Semarang.