Saturday, December 16, 2017

CEO Message #31 Speed

Yang cepat akan memakan yang lambat, bukan yang besar memakan yang kecil”
Memasuki semester kedua tahun 2017, banyak kabar baik bermunculan yang menumbuhkan optimisme kita. Melalui akun Facebooknya, kemarin (5/7) Presiden Joko Widodo mengungkapkan, selepas Lebaran 2017, Index Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia sudah mendekati angka 6.000, rekor baru sepanjang sejarah. Lembaga-lembaga pemeringkat dunia juga senada: Fitch Ratings, Moody's, dan S&P kembali memberikan investment grade kepada kita setelah 20 tahun semenjak 1997.
Setelah mendapatkan peringkat layak investasi dari ketiga lembaga pemeringkat internasional, Indonesia juga mencatatkan perbaikan peringkat sebagai negara paling kompetitif di dunia pada 2017. Laporan tahunan Institute for Management Development (IMD) World Competitiveness Centre menyebutkan posisi Indonesia naik ke posisi 42 dari tahun sebelumnya di posisi 48 dalam peringkat IMD World Competitiveness Yearbook 2017.
Presiden juga mengapresiasi capaian jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia yang menurut Badan Pusat Statistik dari bulan Januari-Mei 2017 mencapai  5.358.489 orang, naik lebih dari 20 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Berdasarkan The Telegraph oleh Oliver Smith, dilaporkan bahwa Indonesia dan Vietnam menjadi negara dengan pertumbuhan sektor pariwisata paling pesat di Asia Tenggara. Hal ini dapat diartikan bahwa sektor pariwisata Indonesia merupakan yang paling cepat bergerak di Asia Tenggara. Apalagi minggu lalu kita seperti mendapat durian runtuh dengan kedatangan Barack Obama untuk berlibur di Indonesia setelah sebelumnya kita kedatangan Raja Salman.
Tren kunjungan wisman ke Indonesia lebih tinggi dibandingkan tiga negara di Asia Tenggara yakni Singapura, Malaysia, dan Thailand. Melansir laman Business Times pada 24 Juni, kunjungan wisman ke Singapura dalam empat bulan pertama 2017 mencapai 5,79 juta. Jumlah itu hanya meningkat 4,4 persen secara year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama 2016 lalu.
Sementara itu, tren kunjungan wisman ke Malaysia malah lebih parah. Menukil laman Xinhua pada 8 Juni 2017, kunjungan wisman ke Negeri Jiran tersebut turun 0,5 persen (yoy). Tren kunjungan wisman ke Thailand sebagai “musuh” profesional juga tak terlalu menggembirakan dengan pertumbuhan hanya 2,91 persen dibandingkan tahun lalu.

Momentum
Berbagai capaian ini menjadi momentum yang dahsyat bagi kita untuk meningkatkan kinerja lebih cepat lagi. Bukannya sebaliknya, small win justru menjadikan kita gampang puas, kendor, sehingga kemudian lajunya melambat. Saat musuh-musuh kita sedang melambat, adalah saat yang tepat bagi kita untuk tancap gas: full speed.
Beberapa bulan terakhir Presiden makin getol mengingatkan kita semua mengenai pentingnya speed sebagai sumbercompetitiveness suatu negara. Pertama pada saat Rapat Koordinasi Nasional Bidang Kemaritiman di Sasana Kriya, TMII, Kamis 4 Mei 2017. “Persaingan antarnegara, bukan lagi yang besar mengalahkan yang kecil, ndak. Bukan juga yang kuat mengalahkan yang lemah. Tetapi negara yang cepat, mengalahkan yang lamban. Negara manapun itu,” ujar Presiden.
Kedua, saat beliau meresmikan Pangkalan Udara TNI AU Wiriadinata Tasikmalaya, Jawa Barat menjadi bandara umum, Sabtu, 10 Juni 2017. Di situ Presiden sekali lagi menekankan bahwa kecepatan dalam menyelesaikan persoalan negara sangat penting. Sebab kecepatan tersebut menjadi modal dalam persaingan antar negara.
Dan terakhir pada saat meresmikan proyek-proyek infrastruktur di Jawa Tengah 18 Juni 2017 lalu, Presiden meminta para pemimpin daerah untuk menciptakan terobosan baru agar tidak tertinggal oleh negara lain. Presiden, tak ingin ada pemimpin daerah yang masih memiliki pikiran linier, monoton, maupun hanya berpikir rutinitas semata. “Semuanya harus berlomba-lomba adu kecepatan. Karena sekali lagi, negara yang cepat akan mengalahkan negara yang lambat. Kita tidak mau kalah dengan negara-negara lain.’
Kita tentu masih ingat, tahun 2016 kemarin ditetapkan oleh Presiden sebagai “Tahun Percepatan”. Kala itu Presiden menegaskan bahwa salah satu fokus kebijakannya adalah deregulasi (di samping infrastruktur dan SDM) agar para pelaku bisnis tak terbelenggu aturan-aturan dan birokrasi.
Sejalan dengan penekanan dari Presiden, kita telah menetapkan speed sebagai salah satu elemen budaya kerja kita yaitu WIN Way. Untuk membentuk karakter pemenang Speed adalah elemen kunci di samping dua elemen yang lain yaitu Solid dan Smart. Intinya, speed adalah bertindak secara cepat dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan. Ingat, kecepatan merupakan sumber terwujudnya kualitas pekerjaan yang tinggi, pemangkasan biaya, dan ketepatan penyampaian produk ke pelanggan (QCD: quality, cost, delivery).
Speed di Kemenpar saya artikan sebagai kecepatan dalam berpikir (fast thinking), kecepatan dalam memutuskan (fast decision), dan kecepatan dalam masuk ke pasar (fast in getting to market) dengan menyingkirkan belitan-belitan birokrasi yang ada. “Simplify the complex things.” Sederhanakan sesuatu yang rumit agar kita bisa bergerak cepat. 

Deregulasi
Mengacu pada konsep Strategi Bersaing dari Michael Porter yang terdiri dari 4 (empat) aspek yaitu : differentiation, cost leadership, speed dan focus; dapat disimpulkan bahwa pariwisata Indonesia unggul dalam aspek differentiation, cost leadership dan focus, namun lemah dalam aspek speed. Dalam hal diferensiasi dan fokus, negara kita sangat bagus, hal ini ditunjukan dengan ranking Natural dan Cultural Resource kita pada Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) WEF selalu menempati Top-20, demikian juga dengan ranking cost leadership selalu menempati posisi Top-5. Namun kita lemah dalam aspek speed, hal ini ditunjukan dengan dimensi Business Environment masih pada ranking 60 dan yang menjadi penyebab utamanya adalah perizinan atau regulasi. Harus diakui kita sangat lemah karena birokrasi yang mengikat dan begitu banyaknya aturan. Birokrasi kita tidak sesuai dengan tuntutan bisnis yang ada. Oleh karena itu, tidak bisa tidak, kita harus melakukan deregulasi. Poin saya, kita harus meningkatkan speed agar bisa bersaing dengan negara lain. Kalau Indonesia terus lelet karena belitan birokrasi dan regulasi, maka orang akan pergi ke Singapura, Thailand, Malaysia, dan bahkan Vietnam.
Ada tiga tingkat strategi yaitu: Strategic, Tactical, dan Operational, yang mempunyai dampak berturut-turut: Tinggi, Sedang, dan Rendah. Jadi apabila kita menginginkan perubahan yang besar, maka seorang CEO harus fokus pada strategic level strategy. Deregulasi termasuk dalam strategic level sehingga impact-nya akan sangat tinggi. Saya menganalogikan tiga level strategi ini seperti bandulan (pendulum). Dengan ilustrasi sebagai berikut: Seorang pekerja yang bergerak pada operational level ibarat ujung bawah pendulum, kalau ujung bawah pendulum bergerak 1 meter, maka dia akan berpindah 1 meter. Sedangkan middle management berada pada tengah pendulum, yang kalau dia bergerak 1 meter, akan dirasakan di ujung pendulum bergerak 10 meter. Sedangkan seorang CEO yang berada di puncak pendulum apabila dia bergerak dengan sudut 1 meter, maka di ujung pendulum dapat dirasakan bergerak sejauh 100 meter.
Dengan spirit Indonesia Incorporated, kita telah banyak melakukan terobosan dan sinergi dengan Kementerian dan Lembaga (K/L) terkait untuk mempermudah aturan-aturan yang tadinya membelenggu dan menghambat. Aturan bebas visa kunjungan terbukti ampuh mendongkrak kunjungan wisman. Begitu pula penghapusan ketentuan Clearance Approval for Indonesia Territory (CAIT) dan asas cabotage untuk cruise atau kapal pesiar asing.
Kemudian deregulasi dalam hal konektivitas perlahan telah membuahkan hasil. Berbagai maskapai mulai berlomba-lomba membuka jalur penerbangan langsung ke berbagai destinasi unggulan kita. Perlahan tapi pasti, defisit seat capacity akan terselesaikan sesuai target. Belajar dari deregulasi besar-besaran yang dilakukan Jepang, air connectivity terbukti mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisman sebesar 56% dalam waktu 3 tahun. Begitu pula kemudahan aturan yang kita berikan untuk program pembangunan homestay diharapkan segera memberikan dampak yang signifikan untuk mewujudkan target 100.000 homestay sampai dengan 2019.
Menutup CEO Message ini sekali lagi saya mengingatkan bahwa capaian dan kemenangan yang sudah kita peroleh dalam beberapa bulan terakhir ini adalah madu sekaligus racun.
Madu karena capaian dan kemenangan itu bisa membuat kita konfiden dan menjadi asupan energi baru untuk bergerak lebih cepat ladi guna mewujudkan capaian yang lebih besar lagi. Istilah saya, memenangkan bukit kemenagan yang lebih tinggi lagi. Tapi capaian dan kemenangan juga bisa menjadi racun, karena ia bisa membuat kita gampang puas dan terjebak ke dalam comfort zone sehingga laju gerak kita menjadi melambat.
Kalau saya meminjam judul film yang sukses luar biasa yang kini telah mencapai sekuel yang ke-8, Fast & Furious, capaian dan kemenangan awal di atas harus membuat kita tak hanya sekedar “fast” tapi juga harus “furious”.
Capaian dan kemenangan awal harus membuat kita tak hanya sekedar “speed”, tapi harus “furious speed”... kecepatannya semakin menggila.


Salam Pesona Indonesia!!!

Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.