Friday, December 29, 2017

CEO Message #1 Facing Reality

Face reality as it is, not as it was or as you wish it to be.” Jack Welch
Bagi saya, tugas pertama seorang pemimpin saat mulai mengemban tugasnya adalah menghadapi kenyataan, sepahit apapun kenyataan itu: facing reality and confront the brutal facts.
Pemimpin yang kuat haruslah melihat kenyataan yang dihadapinya dengan clear eyes dan apa adanya, tak dikurang-kurangi, tak ditambah-tambahi. Dengan begitu ia bisa menghadapi dan mencari solusi yang tepat. Seorang pemimpin tak boleh menyangkal apalagi “lari” dari kenyataan sepahit apapun kenyataan tersebut.
Saya sangat setuju dengan pernyataan Jack Welch yang saya kutip di atas. Sebagai pemimpin Anda harus tough menghadapi kenyataan seperti apa adanya, bukan kenyataan yang Anda buat-buat. Setelah membuka diri dan menghadapi kenyataan pahit, ujar Jack Welch, Anda harus sigap dan cepat take actionuntuk menyelesaikannya. Anda tak boleh diam atau banyak berharap kondisi berubah tapi Anda tak melakukan apapun.  
Yang belum tahu siapa Jack Welch, ia adalah mantan CEO General Electric (GE), perusahaan dengan pengelolaan paling baik di dunia. Di tangannya nilai pasar GE naik hingga 4000%. Oleh Majalah Fortune, pada tahun 1999 Jack Welch dinobatkan sebagai manajer terbaik abad ini: “Manager of the Century”. Dalam “CEO Message” ini dan berikutnya saya akan banyak menggunakan contoh kepemimpinan yang dipraktikkan sosok hebat ini.

Brutal Facts
Menghadapi kenyataan kadang kala mengejutkan dan memaksa kita berurusan dengan fakta yang brutal. Seringkali kita mendapatkan fakta lapangan yang pahit, berantakan, sangat jauh dari ideal, dan penuh dengan keterbatasan. Fakta brutal tersebut haruslah disikapi dengan positif, optimis, dan keyakinan bahwa organisasi yang kita pimpin mampu menghadapinya.
Pengalaman saya menunjukkan, memahami fakta brutal akan memunculkan ide kreatif dan pada akhirnya menjadikan sebuah organisasi menjadi baik (good), bahkan hebat (great).
Untuk menerangkan fakta brutal, saya ingin mengambil contoh gampang Blue Bird. Rekan-rekan semua pasti tahu operator taksi ini kini menghadapi kenyataan pahit karena dihantam latent competitors yaitu perusahaan-perusahaan aplikasi seperti Uber atau Grab. Perusahaan berbasis sharing platform tersebut memberikan extraordinary value ke konsumen (seperti tarif yang lebih murah dan kemudahan pemesanan menggunakan apps) yang menjadikan konsumen Blue Bird berpaling ke layanan baru ini.
Sekarang saya tanya, kalau Anda menjadi CEO Blue Bird, apa langkah pertama yang harus Anda lakukan? Hal paling pertama yang harus Anda lakukan adalah secara open mind melihat dan dengan kebesaran hati menerima kenyataan pahit tersebut. Anda tak boleh denial dan memungkiri kenyataan menyakitkan tersebut. Dan setelah itu Anda harus cepat take action.
Contoh lain Pos Indonesia. Pada akhir tahun 1990-an Pos Indonesia menghadapi fakta brutal karena layanan email mulai marak menggantikan surat berperangko. Tak hanya itu, layanan wesel pos pun terancam punah tergerus oleh layanan ATM bank.  Apa hal pertama yang harus dilakukan CEO Pos Indonesia kala itu? Face reality... and then take fast and decisive actions.  

Memprihatinkan
Pertanyaannya, apa fakta brutal yang kita hadapi di Kemenpar? Saat diminta presiden memimpin kementerian ini, hal pertama yang saya lakukan adalah mencermati data-data kinerja pariwisata kita yang sangat menyedihkan. Inilah kenyataan pahit yang kita hadapi bersama. Inilah fakta brutal yang harus kita terima dan dengan super cepat kita cari jalan pemecahannya.
Coba lihat data-data kinerja kita yang memprihatinkan berikut ini. Dari sisi penerimaan devisa, pariwisata Indonesia hanya  SETENGAH  dari Malaysia dan  SEPEREMPAT  dari Thailand. Tahun 2014 Indonesia hanya meraup devisa $11,2 miliar, sedangkan Thailand $38,4 miliar dan Malaysia $21,8 miliar. Bagaimana bisa negara sebesar ini dikalahkan oleh “anak kecil kemarin sore”.  

Fakta brutal lain, kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB Indonesia 9,6% adalah yang TERENDAH di ASEAN. Bandingkan dengan Malaysia 13%, Thailand 21%, Filipina 11%, Vietnam 14%, dan atau negara kecil Kamboja yang mencapai 30%.

Tak hanya itu, competitiveness index pariwisata Indonesia tahun 2013 hanya bertengger di urutan buncit 70. Bandingkan dengan Malaysia di posisi 34 dan Thailand 43. Berkat kerja keras kita tahun 2015 lalu memang peringkat ini naik ke posisi 50. Namun jangan keburu puas, karena Malaysia dan Thailand pun naik pesat ke posisi 25 dan 35.

Ironis
Kinerja jeblok tersebut sangat ironis kalau kita melihat potensi pariwisata kita yang luar biasa. Tuhan telah menganugerahi kita kekayaan budaya dan keindahan alam yang luar biasa, namun kita tak bisa memanfaatkannya.

Indonesia adalah “mega biodiversity country” yang begitu kaya tanaman dan tumbuhan nan elok. Dengan sekitar 17.000 jumlah pulau dan 2/3 dari seluruh wilayah merupakan perairan, negeri ini memiliki sekitar 10% dari total spesies tanaman di dunia. Kita memiliki 12% spesies mamalia dunia. Bahkan Indonesia memiliki 17% dari segala macam spesies burung yang ada di dunia.

Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki sekitar 5,8 juta km persegi wilayah laut dengan spesies ikannya mencapai 37% dari total spesies ikan dunia. Kita juga memiliki garis pantai sepanjang 81.000 km, merupakan peringkat kedua negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Dari garis pantai sepanjang itu, 2/3 di antaranya dilindungi oleh batu karang yang mencapai 15% dari total batu karang yang dimiliki dunia. Praktis semua jenis batu karang di dunia ada di Indonesia.

Menurut World Economic Forum (2015) di bidang Natural & Cultural Resources, Indonesia menempati tempat tertinggi di ASEAN di posisi 17, jauh di atas posisi Filipina (56), Singapura (40), Malaysia (24), dan Thailand (21).

Nah, dengan potensi maha besar seperti itu bagaimana ceritanya kita bisa dikalahkan negara kecil seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura. Kalau diibaratkan tinju, bisa saya katakan kita ini petinju kelas berat tapi DIKALAHKAN petinju kelas bulu. Betul-betul ironis.

Karena itu ketika Presiden memberi mandat saya untuk mendatangkan 20 juta wisatawan di tahun 2019 banyak orang baik internal maupun eksternal meragukannya. Mereka menyebut itu pekerjaan mustahil. Namun saya berpikiran lain. Kalau kita melihat fakta brutal, seharusnya target itu masih kecil. Kenapa? Karena di tahun yang sama Malaysia dan Thailand diprediksi akan mendatangkan 35 juta wisman.

Itu berarti petinju kelas berat MASIH dikalahkan petinju kelas bulu.

Kita tak boleh menggunakan ukuran internal yang meninabobokkan kita. Itu namanya tidak facing reality. Dalam bertanding kita harus menggunakan ukuran-ukuran lawan kita. Dengan begitu kita tahu bagaimana memenangkan persaingan.

Ingat rekan-rekan, BAIK saja tidak cukup, kita harus menjadi yang TERBAIK.

Demikianlah facing realityStrong leadership itu berawal dari facing reality. Karena dengan melihat fakta yang sebenarnya, kita akan dapat menentukan apa yang harus kita lakukan dengan tepat. Hal ini mengajarkan kita untuk menghadapi kenyataan, meskipun fakta itu brutal.

Salam Solid, Speed, Smart!!!

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.